STRUKTURALISME SAUSSURE: SEBUAH PENDEKATAN AWALSelitas Pandang Strukturalisme
Menurut Bertens, Struktutalisme mempunyai sebuah kesulitan yang unik:
1. Istilah ini tidak memiliki satu arti, dipakai di berbagai bidang kehidupan; bahkan strukturalisme Prancis beda dengan strukturalisme Amerika
2. Levi Strauss, salah satu bapak strukturalisme bukanlah filsuf, tapi antropolog
3. Tidak semua tokoh aliran ini mau disebut kaum ‘strukturalis’
Nah, bingung gak loe…
Yang pasti strukturalis adalah reaksi melawan fenomenologis (yang ada kaitan dengan eksistensialisme). Di sini Ferdinand de Saussure muncul sebagai sebuah nama yang membawa kesatuan dalam pemikiran strukturalisme (meskipun masih ada perbedaan, tapi ada inti yang diikat oleh pemikiran Saussure), dengan membawa strukturalisme kepada teori linguistic.
Konsep Saussure: Sebuah PENGANTAR
1. Teori bahasa dan tanda bahasa: Signifiant – Signifie
Konsep pembedaan ‘tanda’ ini adalah inti filsafat Saussure. Secara umum Saussure menitik beratkan pada filsafat bahasa sebagai obyek, yang lepas dari obyek benda yang dibicarakan. Kalau sebelumnya, kata ‘pohon’menunjuk kepada obyek/realita pohon di depan, maka menurut Saussure kata ‘pohon’ menunjuk kepada ‘konsep akan benda’ (sebuah pemikiran abstrak/metafisika).
Secara umum juga dipahami bahwa kata-kata dibuat setelah ada (untuk menamai) konsep/obyek yang dipikiran. Saussure menyatakan keunikan filsafat bahasa, yaitu bahwa suatu kata tidak pernah muncul begitu saja tanpa makna. Sebab itu ‘tanda bahasa’ dibagi 2, yaitu le significant (the signifier) dan le signifie (the signified). Signifiant (Signifier) adalah kata yang terucap, aspek material bahasa, apa yang didengar atau dibaca. Signifie (Signified) adalah gambaran mental yang muncul. Kedua aspek ini tidak mungkin dilepaskan.
Hubungan keduanya bersifat arbitrer, bukan natural. Artinya bahwa dua tanda itu muncul dalam sebuah ‘struktur’ / ‘sintagmatik’ (yang sebenarnya kata ‘struktur’ tidak banyak ditemukan dalam tulisan Saussure, Cuma 3 kali ?!?), yang tiap tempat sangat mungkin beda. Jadi ini dibuat dan situasional (sinkronis, bukan diakronis).
2. Hubungan relasi antar tanda
Relasi antar tanda seperti disebut di atas, bersifat sintagmatik (sebuah rangkaian dalam ruang dan waktu yang sama dan bersigat praesentia – sesuai dengan tempat dan waktu itu); Contoh: Bella - makan - nasi. Urutan ketiga kata ini tidak sembarangan. Inilah fungsi sintaksis. S-P-O, meski diubah posisinya, namun gramatikalnya tetap, terikat oleh linearitas bahasa. Contoh: Bella makan nasi. Pengganti kata ‘bella’ mungkin adalah ‘debora’, ‘kezia’, ‘reiner’ (tidak mungkin ‘air’, ‘mengganggu’, ‘kipas angin’, dll). Relasi sintaksis inilah yang disebut struktur!
Relasi antar kata ini disebut sebagai relasi asosiatif, di mana setiap kata hadir dalam relasi in-absentia. Bahwa kata tertentu selalu dihubungkan sebagai ‘kelanjutan’, ‘berbeda dari’, ‘bukan’, atau ‘sama dengan’. Relasi ini juga disebut relasi paradigmatic. Setiap petutur selalu menguasai semacam jejaring unsur-unsur bahasa yang tergolong dalam paradigma tertentu dan saling membedakan. Jejaring ini disebut system.
3. Teori: Lague – Parole
Bahasa sebagai gajala social disebut ‘langage’, yang terdiri dari dua tataran: social/lintas individu, kaidah, konsep (langue) dan praktek bahasa dalam masyarakat (parole). Orang tidak akan mengerti parole jika tidak memahami langue. Orang tahu konsepnya dulu baru bisa menggunakan. Di sini langue tiap tempat berbeda (ingat konsep sinkronistis!)
4. Bahasa lisan lebih penting daripada bahasa tulisan
Bahasa lisan adalan bahasa yang paling dekat dengan makna sebenarnya. Bahasa tulisan dalah turunan dari bahasa lisan. Sehingga penelitian linguistic hanya difokuskan pada bahasa lisan
5. Konsep sinkroni dan diakroni
Menurut Saussure, linguistic harus lebih dahulu memperhatikan sinkroni, baru diakroni. Syn(bersama)-khronos(waktu) artinya bertepatan menurut waktu; sebuah pemikiran bahwa hal tersebut lepas dari perspektif historis, peninjauan ahistoris. Sedangkan dia (melalui) – khronos (waktu), artinya menelusuri waktu; sebuah tinjauan historis.
Para peneliti bahasa mencoba melihat makna melalui relasi historis (komparatif-historis). Misalnya: untuk meneliti makna ‘Sekolah’ (bahasa Indonesia), para ahli bahasa harus melihat istilah Yunani ‘skhole’ (waktu luang). Hal ini yang ditentang oleh Saussure. Menurutnya, makna bahasa harus dilihat lepas dari perbandingan kata di wilayah yang berbeda, karena struktur bahasa ada dalam wilayah itu sendiri. Di sini muncul penelitian structural.
Hal ini bukan berarti bahwa Saussure tidak menggunakan pendekatan diakronos, tapi pendekatan sinkronos memang lebih diutamakan. Linguistik komparatif baru digunakan untuk melihat perbandingan system struktur bahasa di tempat tertentu dengan tempat yang lain.
Konsep struktur dapat dipahami secara ‘minimalis’ atau ‘holistik’. Secara minimalis, struktur mencakup konsep system. Yang penting adalah relasi antar komponen. Menurut Saussure struktur terwujud dalam dua pengertian: yang bersifat sintagmatik dan asosiatif. Relasi sintagmatik adalah relasi antarunsur dalam ruang dan waktu yang sama. Sifatnya pra-esentia, dan membentuk STRUKTUR. Relasi asosiatif adalah relasi antarunsur yang diasosiasikan, jadi tidak dalam ruang dan waktu yang sama. Inilah in-absentia, dan membentuk SISTEM.
Struktur dan system hadir bersamaan dalam kognisi manusia. Sedangkan secara holistic, struktur dimaknai sebagai totalitas unsur-unsur yang berkaitan satu sama lain, pra-absentia atau in-absentia.
Tiga sifat struktur: totalitas, dapat bertransformasi, membentuk otoregulasi (saat transformasi membentuk relasi baru). Jadi Prinsip Dasar Strukturalisme: struktur dan system hadir bersama, bersifat abstrak (ada dalam kognisi manusia), merupakan satuan yang tertutup dan memenuhi dirinya sendiri.
Menurut pembaca, ini adalah konsep yang menarik, untuk dibaca dari buku aslinya
Sumber:
- Hoed, Benny. Derrida vs. Strukturalisme de Saussure, dalam Basis (Derrida) no 11-12, tahun ke 56, November – Desember 2007
- Bertens, K. Filsafat Barat Abad XX Jilid II “Perancis”