Rabu, 20 Maret 2013

bahan mid kelas XI:handout+penjelasan



ETIKA KRISTEN
Tujuan Belajar:
1.       Memahami keunikan Etika Kristen
2.       Memupuk sikap etis dalam diri

Pemikiran awal:
Jika etiket berarti adalah ruang lingkup, yaitu aturan-aturan yang membatasi tindakan seseorang dalam sebuah komunitas. Misalnya: dalam sebuah komunitas desa, bersendawa (glegek’an) dengan bunyi keras menjadi etiket kesopanan ketika anggota komunitas tersebut selesai makan, karena itu menandakan kepuasan makan. Sedangkan untuk kelompok lain, bersendawa dengan bunyi keras merupakan kekejian (hehehe…maksudnya: hal yang tidak sopan J); maka etika adalah  ilmu tentang etiket (melihat hal-hal mendasar dari etiket yang ada).
Jika orang diajari etiket, tentu harapannya adalah menjadi baik. Masalahnya adalah apa yang mendasari kebaikannya.
Kalau ada orang memberi dan menerima dengan tangan kanan, etika yang nampak adalah kesopanan. Nah, bagaimana dengan etika Kristen. Apa yang mendasari kesopanan orang Kristen??
Kalau ada dua orang yang sopan, lalu kesopanan Kristen apa bedanya dengan kesopanan yang lain??

Penjelasan:
Beberapa alas an ketika seorang Kristen melakukan etiket/etika adalah :
1.       Pemahaman tentang keselamatan
a.       Bagi orang Kristen, keselamatan adalah anugerah! Keselamatan adalah cuma-cuma karena kasih Allah dalam Yesus Kristus memberikan diri menanggung hukuman dosa manusia. Oleh sebab itu, orang diselamatkan karena iman (Roma 3:23-30)
b.      Perbuatan baik bagi orang Kristen adalah buah / ucapan syukur kita kepada Allah yang sudah memberi keselamatan (Efesus 2:8-10)
c.       Perbuatan bukan ukuran/bukti keselamatan, karena banyak orang baik tetapi tidak mengenal Yesus
d.      Orang Kristen harus berbuat baik, bahkan harus lebih baik, lebih sempurna,lebih benar, lebih kudus dibandingkan orang lain karena Orang Kristen sudah mendapatkan keselamatan
2.       Pemahaman tentang kebebasan
a.       Tidak ada orang yang bebas 100%! Manusia selalu dipengaruhi oleh masa lalu, orang lain, pengaruh luar, masyarakat dan lain sebagainya. Contoh: konsep tentang cantik kita selalu dipengaruhi oleh konsep masyakat tentang cantik (hidung mancung, kulit putih, rambut lembut, dan lain sebagainya …apa ada yang berpendapat lain? Hehe). Oleh sebab itu kita perlu berpikir jangan-jangan yang kita anggap sebagai kita sadar bebas memilih, sebenarnya kita sedang tidak sadar memilih…
b.      Manusia dipengaruhi DOSA! Manusia adalah HAMBA dosa! Manusia lebih mudah menjadi jahat dibandingkan menjadi baik. Mengapa demikian? Karena manusia tidak bebas. Manusia dibelenggu dosa, menjadi hamba dosa!
c.       Maka keselamatan jelas adalah anugerah karena kita seringkali (jika direnungkan) tidak paham mengapa kita bisa percaya Yesus. Mungkin kita sering mendengar khotbah yang intinya sama, tapi entah karena apa kita bisa bertobat pada sebuah saat (kita percaya Allah yang anugerahkan) Inilah bukti bahwa iman itu adalah anugerah Allah semata, bukan karena kemampuan kita (termasuk untuk beriman)
d.      Kapan manusia menjadi bebas? Saat manusia SADAR! Setelah kita melakukan sesuatu kemudian kita berpikir kenapa demikian, saat itulah kita sadar. Saat melakukan dosa kadang keinginan itu muncul tanpa sadar, tetapi tentu ada saat (titik tertentu) kita sadar, kita berpikir…itulah kesadaran kita. Saat kita melakukan kebiasaan baik, kadang itu hanya kebiasaan, tapi kadang kita menjadi sadar dan bertanya ‘kenapa kita melakukan hal itu’. Saat itulah saat kita sadar!
e.      Sigmund Freud menyatakan bahwa manusia dikendalikan oleh 3 hal:
                                                               i.      Id = nafsu. Manusia banyak dikendalikan oleh nafsu. Contoh: jika anda melihat tas di mall, apa dulu yang anda lihat: menariknya atau harganya atau kebutuhannya? Kebanyakan karena ‘ketertarikan’… itulah id!
                                                             ii.      Superego = sebuah koreksi dalam diri yang muncul karena pembiasaan. Ini sering dikaitkan dengan suara hati. Dia muncul mendadak, tiba-tiba. Ini karena pembiasaan sejak kecil. Misalnya bagi anak yang tidak biasa mendengar suara tinggi dalam sebuah kemarahan (karena cara orang tua marah adalah diam), akan merasa bersalah sekali ketika dia marah dan mengeluarkan nada yang tinggi. Seorang yang dididik di lingkungan keluarga yang memiliki cara marah yang kasar akan merasa kurang bersalah jika dia marah dengan cara kasar dan ekspresif.
Superego (juga suara hati) sudah jatuh dalam dosa, meskipun masih bisa dipakai Tuhan untuk mengingatkan kita. Suara hati kita sering menjadi tidak peka. Suara hati bisa menuduh berlebihan. Oleh sebab itu, kedekatan dengan Tuhan melalui Firman Nya mutlak dibutuhkan supaya kita semakin peka dan tepat (termasuk suara hati kita)
                                                            iii.      Ego = kesadaran. Sigmund Freud menyatakan bahwa ego adalah hal yang paling jarang menguasai diri kita. Kita paling sering digerakkan oleh id dan superego. Nah, seharusnya semuanya dibawa pada ego (kesadaran). Bahasa Alkitab inilah akal dan budi. Jadi saat id dan superego kita menyatakan sesuatu pada kita, kita butuh ego untuk dapat melogika-kan, menyadarkan, mensistematiskan sehingga semuanya menjadi lebih tepat dan benar.
Contoh: Saat kita ingin membeli tas, kita berpikir apakah itu berguna … Saat kita merasa bersalah karena melakukan hal yang tidak biasa, logika kita mengingatkan tingkat rasa bersalah kita jangan berlebihan.
Meskipun ego (kesadaran akal budi) adalah tingkat tertinggi, Paulus mengingatkan untuk terus kesadaran kita diperbaharui oleh Allah sehingga mampu membedakan apa yang baik, yang dikehendaki Allah dan yang sempurna(Roma 12:1-3)
3.       Prinsip pemilihan keputusan etis
Ingatlah bahwa dalam kebebasan kita kita sering dihadapkan dengan banyak masalah yang tidak mudah dihadapi. Dan dalam masalah kadang kita diperhadapkan pada pilihan yang sulit: antara memilih ini yang salah dan memilih itu yang juga salah (keputusan etis). Kadangkala keberdosaan/kesalahan tidak menjadi jelas. Misal: kasus euthanasia, menolong orang dengan cara yang salah, berbohong dalam beberapa kasus untuk menolong, dan lain sebagainya.. Beberapa prinsip memilih keputusan yang demikian adalah:
a.       Menjauhi 2 ekstrim: legalitas (legalisme) dan situasional
                                                               i.      Legalisme = berpatokan pada aturan secara buta, tanpa hati (kelebihan: jelas, kelemahan: hanya berdasar aturan)
                                                             ii.      Situasional = berpatokan pada situasi, tidak ada aturan jelas (kelebihan: fleksibel, kelemahan: tidak jelas)
b.      Memilih yang paling sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan dan dapat dipertanggungjawabkan
c.       Kaidah kencana: berpikir seandainya saya menjadi seperti dia J
4.       Kepekaan suara hati
Suara hati manusia jatuh dalam dosa. Harus dididik dan dilatih dalam terang Firman Tuhan.






KEKRISTENAN DAN BUDAYA

Tujuan belajar:
1.       Memahami berbagai pendekatan kekristenan terhadap budaya
2.       Memikirkan dan memilih pendekatan yang paling tepat


Pemikiran Awal:
Manusia adalah mahluk yang berbudaya. Manusia menciptakan budaya, sekaligus berinteraksi, memilih dan dipengaruhi oleh budaya. Manusia sering harus menentukan sikap terhadap budaya. Contoh: penggunaan HP dan ipad, jika itu digunakan oleh orang Kristen dalam ibadah, apakah tepat? Orang Kristen tidak membawa Alkitab tetapi membawa HP saja/Ipad saja waktu ibadah, tepatkah? Kalau pengkhotbahnya yang tidak membawa Alkitab?
Contoh lain: jika ada seorang anak pendeta mahir bermain game online, tepatkah itu? Atau kalau pendeta Anda ternyata adalah pemain bilyard yang handal, bagaimana pandangan Anda? Atau ternyata Pembina (laki-laki) gereja Anda memakai tattoo dan anting, bagaimana pendapat Anda? Atau pendeta Anda jago gangnam style, bagaimana pendapat anda?
Pendekatan terhadap budaya (HP/Ipad, game online, bilyard, tattoo) mungkin berbeda-beda. Nah, kita akan membahas perbedaannya dan keunikan pendekatan yang ada


Materi:
Ada 5 pendekatan Kekristenan terhadap budaya:
1.       Antagonistis
Sikap menolak budaya sama sekali. Budaya dianggap tidak sesuai dengan Alkitab, oleh sebab itu ditolak
2.       Akomodasi
Sikap merangkul budaya (beserta semua hal di dalamnya). Misalnya: memakai budaya wayang sekaligus penyembahan berhala yang ada di dalamnya. Bagi penganut akomodasi, mereka berpikir bahwa budaya dan hal yang ada di dalamnya tidak bertentangan dengan iman Kristen.
3.       Dualisme
Sikap ini merangkul budaya (beserta semua yang ada di dalamnya), tetapi menyadari bahwa budaya tersebut bertentangan dengan iman Kristen. Hanya saja karena satu dua hal, penganut dualisme tetap memakai pendekatan ini. Mungkin karena kebutuhan atau tuntutan. Contoh: pedagang Kristen yang memiliki jimat. Dia tahu jimat tidak boleh, tetapi tetap memakainya
4.       Dominasi
Sikap ini menerima budaya tetapi dipakai untuk kekritenan. Contoh: memakai tattoo tetapi tattoo gambar salib. Memakai music dangdut tetapi lagu Kristen.
5.       Transformasi
Sikap ini menerima budaya tetapi memperbaharuinya. Hal yang tidak bertentangan dengan nilai Kristiani diterima, sedangkan yang bertentangan dengan iman Kristiani diperbaharui, diisi dengan hal-hal yang Kristen. Misalnya: kisah barongsai yang disisipi kisah Alkitab. Mungkin Allah menciptakan naga, dan lain sebagainya…. Jadi budaya itu diperbaharui.

Prinsip yang harus kita ketahui sebagai orang Kristen:
1.       Manusia menciptakan budaya
2.       Manusia jatuh dalam dosa, sehingga budaya jatuh dalam dosa
3.       Budaya bisa dipakai iblis untuk menjadi budaya dosa
4.    Budaya harus ditebus dalam Kristus 
5.      Allah ingin budaya itu dipakai untuk kemuliaan Allah

Kamis, 07 Februari 2013

Hand Out kelas X


HAND OUT KELAS X

Ciri pribadi yang dewasa (baca buku paket)

Hand Out kelas XI


HAND  OUT KELAS XI
Nilai dan Norma
Nilai adalah perasaan tentang apa yang diinginkan dan tidak diinginkan (dalam batin) yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang yang memiliki nilai tersebut. Nilai adalah ukuran yang digunakan untuk menilai baik buruknya sebuah tindakan dalam kehidupan
Norma adalah kesepakatan bersama di dalam masyarakat atau kelompok; sebuah petunjuk berisi larangan atau aturan sehingga anggota  masyarakat bertingkah sesuai norma yang berlaku
Di dalam norma terkandung nilai

Nilai yang saat ini muncul :
1. Persamaan
2. Kerjasama dan pengakuan kelebihan masing-masing (kebebasan meng-upload)
3. Efisiensi dan efektivitas
4. Kebebasan dan kemudahan mengakses sesuatu

Nilai Kristiani
Perbedaan Nilai orang Kristen dan non Kristen terletak pada sebab nilai dan bagaimana nilai tersebut diterapkan. Secara umum nilai yang dimiliki adalah sama, contoh: nilai kebaikan, nilai kebersamaan, pengorbanan dan lain sebagainya.
Perbedaannya seharusnya terletak pada:
1. Penyebab: Orang Kristen percaya bahwa nilai-nilai tersebut dianut karena orang Kristen sudah diselamatkan oleh Yesus (bukan supaya diselamatkan). Jadi nilai kekristenan muncul sebagai dampak dari keselamatan yang sudah diterima
2. Bagaimana melakukan: Orang Kristen telah mendapatkan keselamatan, oleh sebab itu seharusnya orang Kristen melakukan nilai-nilai dengan lebih tulus dari hati. Jika orang percaya tidak mendapatkan balasan kebaikan pun, orang percaya tetap harus melakukan nilai Kristen karena sudah mendapatkan keselamatan!


BERCERMIN DIRI
1. Tidak ada manusia yang sempurna. Justru dalam kelemahan manusia, kuasa Tuhan bertambah nyata (II Kor 12:9)
2. Manusia harus bisa mengubah  kelemahan yang dapat diperbaiki, menerima (berdamai) dengan kelemahan yang tidak dapat diperbaiki dan membedakan kedua kelemahan tersebut
3. Manusia memiliki kelebihan yang dimiliki tiap pribadi
4. Allah memiliki rencana untuk kebaikan diri dan ciptaan lain (Efesus 2:8-10)
Bercermin diri: baca tokoh Alkitab yang ada di kitab Hakim-Hakim (lihat sisi: kelebihan, kelemahan, dan karya Allah atas mereka) : Ehud, Debora Barak, Gideon,Yefta dan Simson


GAYA HIDUP MODERN
Beberapa gaya hidup modern yang muncul dan berkembang:
1. Materialisme
Gaya hidup menilai dan menghitung dari sisi yang terlihat secara materi. Gaya hidup ini menllai berdasarkan apa yang dapat diprediksi dan dapat diukur menurut pemikiran yang logis. Contoh gaya hidup ini:
a. Memandang ‘kesuksesan’ dari apa yang tampak (dapat dilihat dengan jelas)
b. Memprediksi sebuah kejadian berdasarkan pengamatan yang dapat diukur, misalnya: kalau menikah dengan orang miskin pasti akan menjadi miskin
Gaya hidup ini ada benarnya, hanya saja terlalu menekankan materialism akan meniadakan spiritualisme dan iman. Misal: sebenarnya manusia dan nasibnya tidak bisa diukur dengan cara materialism belaka, karena ada factor Tuhan dan factor semangat dalam diri manusia itu sendiri
2. Hedonisme
Hedonisme berasal dari kata ‘hedone’ yang berarti mengejar kesenangan. Tokoh yang terkenal memperoklamasikan gaya hidup ini adalah Epikuros, dengan semboyannya “carilah kesenangan sebanyak mungkin dan hindarilah penderitaan sejauh mungkin”
Setiap manusia memang memiliki naluri untuk mencari kesenangan. Namun kesenangan (hedonism) dapat dibagi menjadi:
a. Hedonisme sempit: mencari kesenangan saat ini
Contoh: saatnya belajar malah  main game
b. Hedonisme luas: mencari kesenangan untuk masa yang akan datang
Contoh: memilih untuk belajar demi meraih kesenangan memperoleh hasil yang lebih baik
Hedonisme luas lebih dapat diterima daripada hedonism sempit karena efek kesenangan yang diperoleh hedonism luas akan jauh lebih lama. Meskipun demikian, hedonism melupakan satu hal, yaitu bahwa prinsip kesenangan dapat meniadakan ‘keutamaan dan pengorbanan’. Terkadang orang harus memilih berkorban dan memilih prinsip yang lebih utama dari kesenangan, meskipun berakhir dengan penderitaan atau kematian sekalipun. Seorang pejuang perang mungkin tidak memikirkan kesenangan dalam pertempuran, meskipun pada akhirnya dia harus mati bahkan tidak diingat sama sekali. Sadrach, Mesach dan Abednego memberi contoh yang baik ketika dihadapkan dengan hukuman perapian yang menyala-nyala (Daniel 3:16-18)
3. Individualisme
Individualisme adalah sikap memikirkan diri sendiri. Sikap ini dimiliki setiap orang, sekaligus merupakan kecenderungan semua orang. Hanya saja, sikap ini seharusnya dibarengi dengan sikap mementingkan kepentingan orang lain juga.
4. Konsumerisme
Gaya hidup ini meledak dengan tersedianya banyak barang di pasaran. Dunia mangajak manusia untuk memiliki sifat ini. Dalam banyak hal, benda dibeli bukan untuk kegunaan fungsional utama, namun seringkali hanyalah menjadi sebuah ajang prestise dan pemuasan diri. Contoh: pembelian HP jenis terbaru seringkali menjadi ajang gengsi daripada fungsi utama HP itu sendiri.

PRINSIP PEMILIHAN KEPUTUSAN ETIS SEBAGAI PELAJAR KRISTEN
1. Mensyukuri keselamatan yang adalah Anugrah Allah dan hidup berdasar anugerah tersebut
2. Bertanggung jawab pada kebebasan
Beberapa prinsip memilih sebuah keputusan etis:
a. Pilih yang paling sesuai dengan Firman Tuhan
b. Pilih yang berdampak buruk paling kecil dan berdampak baik paling besar
c. Sedapat mungkin hindari 2 ekstrim: Legalisme maupun Situasional
Legalisme: ajaran yang mengajarkan untuk mengikuti aturan belaka tanpa bertanya makna/arti sesungguhnya (kata yang muncul adalah ‘pokoknya begitu’)
Situasional: ajaran yang mengajarkan untuk tidak mengikuti aturan manapun, semua terserah pada manusianya dan situasi yang saat itu muncul
d. Kaidah Kencana
Kaidah kencana adalah sikap meletakkan posisi diri seandainya menjadi orang lain (misalnya: ketika ayah melarang anak remajanya pulang malam, maka anak remaja tersebut harus mencoba berpikir seandainya mereka kelak menjadi ayah dan memiliki anak remaja akankah mereka memperbolehkan anak remajanya pulang malam?!)
3. Melatih Hati Nurani
a. Manusia adalah mahluk yang diberi hati nurani oleh Allah, dibentuk melalui pembiasaan sejak kecil (saat sejak kecil kita diberitahu untuk tidak mencuri, ketika kita akan mencuri maka dalam hati kita ada yang menegur. Itulah hati nurani)
b. Hati nurani manusia jatuh dalam dosa
c. Sebab itu, hati nurani perlu dibimbing dalam terang Firman Tuhan.Biasakan membaca Firman Tuhan, maka hati nurani kita akan menjadi semakin peka


SIKAP KEKRISTENAN TERHADAP KEBUDAYAAN
Terdapat beberapa prinsip sikap Kristen terhadap budaya:
1. Budaya adalah hasil dari keunikan manusia, dan itu menunjukkan peradaban manusia (demi kemuliaan Allah)
2. Budaya telah jatuh dalam dosa (karena manusia jatuh dalam dosa)
3. Budaya perlu dikuduskan dalam darah Kristus dan dipakai manusia memuliakan nama Allah
Ada 5 sikap Kekristenan terhadap kebudayaan:
1. Dualistis : sikap memisahkan iman dari kebudayaan. Dua hal ini tidak bisa didiskusikan. Sehingga orang bisa saja ke gereja, tetapi tetap melakukan kebudayaan memegang jimat untuk penglaris dagangannya, karena iman dan budaya tidak akan bertemu
2. Antagonis: sikap menekankan pertentangan antara iman dan budaya, dan orang Kristen harus memilih iman dan mengalahkan budaya (karena budaya jatuh dalam dosa). Misal: penolakan penggunaan gamelan bagi orang Kristen karena gamelan identik dengan pemujaan berhala. Maka orang Kristen dilarang memakai gamelan
3. Akomodatif: sikap menyesuaikan diri/menyatu dengan budaya. Seringkali sikap ini ‘merugikan’ iman Kristen. Misal: penerimaan tarian barongsai (beserta ritual di dalamnya) untuk acara peresmian sebuah gereja beretnis cina
4. Dominasi :sikap ini berusaha menyucikan budaya melalui gereja. Kebudayaan yang berdosa akan menjadi benar jika dipakai untuk gereja. Contoh: music rock yang dianggap kacau, akan benar jika dipakai memuji Tuhan. Jadi selama isinya untuk Tuhan, di gereja, maka budaya itu menjadi aman dipakai
5. Transformasi: sikap ini menyadari bahwa manusia dan budaya jatuh dalam dosa, namun budaya tersebut perlu dipilih dan dipilah. Yang mengandung hal negative dibuang dan diisi dengan hal yang baik. Misalnya: pemakaian tarian barongsai di gereja dalam perayaan imlek tapi ritualnya ditiadakan (tidak memakai sesaji, sebelum pentas berdoa kepada Allah bersama semua pelayan Tuhan)
Secara umum sikap yang paling tepat adalah transformasi, tetapi dalam beberapa kondisi ternyata sikap lain masih dapat ditemukan dalam komunitas orang percaya

KEKRISTENAN DAN IPTEK
1. Allah adalah sumber pengetahuan (Yak 1:5-6, Amsal 1:7)
2. Ilmu adalah sebuah upaya memahami dan mengatur kehidupan demi kemuliaan nama Tuhan (Allah memberikan mandat budaya ketika menciptakan manusia: mandat untuk mengatur bumi-Kejadian 1:28)
3. Dengan kuatnya pemikiran materialisme, ilmu pengetahuan memiliki potensi membuat manusia jauh dari Allah dan tidak mengakui Allah
4. Kedalaman ilmu (semakin belajar, semakin merasa bodoh) hendaknya semakin membuat manusia rendah hati dan mengandalkan Tuhan
5. Batasan penelitian ilmu (misalnya: cloning apakah diperbolehkan,dll) adalah: pemuliaan Allah dan pemuliaan ciptaan. (apakah penelitian ini akan semakin memuliakan Allah dan menambah baik ciptaan yang ada, atau semakin merusaknya). Ini adalah tanggung jawab moral setiap ilmuwan Kristen!!