To : JWM
Catatan Pinggir ‘EPISTEMOLOGI
KIRI’
Sebuah catatan
pinggir tentunya tidak akan banyak. Sebuah catatan pinggir bukanlah tulisan
utama. Dia hanyalah pengingat inti, pengkait makna, perumus masalah ke depan.
Dia tidak berpretensi menjabarkan, hanya memberi komentar. Bukan tulisan utuh, namun sekedar rangsangan
pemahaman.
Karena nya
catatan pinggir tidak akan menggantikan tulisan utama. Bukan bermaksud
mengganti kebenaran penulis buku. Dia adalah catatan dari orang yang membaca
buku yang dituliskan. Meskipun demikian, catatan pinggir ini dibuat dengan
harapan semoga berguna :)
Pertama, buku ini adalah buku ‘bombastis’ (dalam pengertian netral)
yang berupaya menjabarkan kumpulan pemikiran tokoh-tokoh ‘kiri’ ternama. Kenapa
saya sebut bombastis, karena tokoh-tokoh yang dipilih adalah tokoh-tokoh utama.
Mencoba mengungkapkan pemikiran mereka adalah sebuah upaya pencarian yang luar
biasa mulianya, sekaligus luar biasa sulitnya tentunya. Dan karena materi buku
ini dibuat pada awalnya sebagai kompilasi tugas dari sebuah perkuliahan, maka
pendalaman terhadap tiap tokoh menjadi tugas yang harus dilanjutkan. Apalagi
kalau membaca tulisan para penulis terhadap tiap tokoh (dilihat dari daftar
pustakanya saja,terlalu banyak tulisan kedua – tulisan bukan dari tokoh utama),
ada hal yang seharusnya lebih dalam untuk dikupas (contoh mengenai Karl Marx,
dialektika Hegel terlihat digambarkan, hanya saja mengapa menjadi materialistis
dan secara real menjadi pola borjuis dan
proletar kurang dapat dijelaskan. JWM, dialektika itu pola dialog:
tesis-antitesis-sintesis. Pola ini dipakai untuk mencari hal yang baru: ada
teori, diragukan, ditemukan hal yang baru. Untuk Karl Marx semua menjadi pola
borjuis, proletar, sosialis. Untuk Marx pola sosialis akan menjadi hasil akhir
dan sebuah keniscayaan dalam masyarakat mana pun). Hanya saja, sebagai
sebuah tulisan pendalaman awal (pengantar), tulisan ini cukup baik untuk dibaca
(mungkin buku ini juga seharusnya disebut ‘catatan pinggir tokoh kiri’ hehe).
Kedua, buku ini memiliki terminologi yang unik, yang seharusnya
dibaca oleh para pembelajar sosiologi atau ilmu social. Menurut saya bacaan ini sangat berat untukmu,JWM. Tapi untuk mengetahui
khazanah dunia social saya pikir ini cukup baik. Saya ingin jelaskan
sedikit tentang ‘kiri’ yang selalu diidentikkan dengan atheis, komunis yang
tampak berkonotasi negative. Padahal ‘kiri’ lebih identik dengan dinamika,
semangat bergelora tanpa henti. Anti status quo (mungkin juga bisa diartikan
anti ‘kemapanan’. Kemapanan di sini diartikan sebagai sesuatu yang statis).
‘Kiri’ diartikan ‘kritis’ terhadap sebuah situasi yang ada. Sebenarnya, pola
pikir kiri seharusnya harus selalu ada di dalam diri kita. Kita harus selalu
mengkritisi diri untuk berbenah. Bukannya jika kita berhenti berbenah (bersikap
kritis pada diri kita sendiri sekali pun, maka kita bisa dikatakan ‘mati’).
Itulah dialektika kiri. Menurut ku, Yesus juga adalah ‘seorang kiri’, dalam
pengertian mendobrak kemapanan para tokoh Farisi dan Saduki. Yesus tidak
menyukai aturan yang menjadikan manusia menjadi tidak manusia lagi.
Ketiga, sebagai buku yang mengupas tentang ‘pemahaman kiri’
tampaknya ke-kiri-an para penulis cukup nampak dengan memberikan alternative
tokoh yang unik (tiga tokoh Asia, Islam: Mohammed Arkoun, Hassan Hanafi, Asgar
Ali). Biasanya, bicara mengenai Epistemologi (pokok dasar ilmu) tokoh yang
diambil biasanya dari Barat. Tetapi pilihan para penulis menjadi menarik karena
ternyata diskusi ‘kiri’ juga menyentuh dunia Islam, sebuah agama yang terkenal
mapan dan sulit berubah. Tokoh-tokoh
yang diambil menunjukkan bagaimana pergumulan ke-islam-an mereka yang ternyata
tidak hanya satu warna. Tentunya ini ingin menunjukkan bahwa pemikiran kiri
adalah pemikiran yang lintas agama dan budaya, sekaligus menunjukkan ke-kiri-an
para penulis yang mencoba bersikap kritis terhadap pemikiran kebaratan.
Keempat, sekaligus mencoba bersikap kiri, saya pikir kita harus
tahu batasan ‘menjadi kiri’. Batasannya bukanlah ‘kanan’. Karena dalam posmo,
sekaligus diulas di bagian akhir buku ini, kiri dan kanan menjadi lebur tanpa
batas yang jelas. Kiri memahami kanan dan kanan membutuhkan kiri.
Ini bukan masalah artificial, tapi sesungguhnya tidak ada yang hanya kiri dan tidak ada kanan yang hanya kanan.
Karena setiap orang sekaligus kritis tapi sekaligus perlu kemapanan. Ada
kepastian yang harus tetap dimiliki, sekaligus ada keinginan mempertanyakan
kepastian yang dipunyai. Nietzche menggambarkan hidup seperti kapal yang lepas
tanpa diikat dermaga, tetapi sesekali dan kapal membutuhkan dermaga! Kapal
harus diikat di dermaga, karena hidup tanpa kepastian akan menjadi nihilis (tanpa tujuan, tanpa arah,
bahkan tanpa harapan). Maka, sepakat dengan Habermas, kemajuan/kesepakatan
harus terus diupayakan meskipun perbedaan tetap diakui, bahkan dikembangkan. Jadi menjadi kritis bukan berarti tanpa
kesimpulan. Kesimpulan harus didapatkan dan diupayakan melalui komunikasi aktif
(diskusi). Tapi kesimpulan itu harus dikritisi ulang lagi :) Itulah dialektika.
Itulah hidup, sebuah perjuangan tanpa henti-henti :)
Batasan kedua adalah iman.
Iman adalah sesuatu yang dipercayai tanpa pertanyaan. Karena ketika pertanyaan
itu terjawab, maka namanya bukan iman lagi. Iman memang selalu ditanya, dan
mencari jawab (itu memang harus). Tetapi selalu ada ruang terbuka yang dibiarkan
tanpa jawab, atau diarahkan kepada sesuatu yang diimani (Kalau kita: Kristus,
Allah, dan lain sebagainya). Sebenarnya semua hal selalu membutuhkan iman
(dalam ilmu umum disebut aksioma, sebuah hal yang dipercayai dan tidak akan
ditanyakan). Contoh: untuk matematika,seseorang membutuhkan iman bahwa ada
angka yang namanya satu (1), dua (2), dan seterusnya…tanpa mempertanyakan
apakah angka satu itu benar-benar ada. Itulah iman: percaya bahwa ada sesuatu
yang disebut satu, dua dan lain sebagainya.
Jadi batasan kiri yang kedua adalah iman :)
Demikianlah catatan pinggir saya
JWM. Jangan pernah berhenti menjadi kritis. Tetaplah menjadi kritis pada apa
pun dan pada siapa pun (termasuk pada iman, dan meskipun harus berhenti karena
iman, minimal menjadikan kita paham mengapa kita beriman). Kalau Hassan Hanafi
mengumandangkan kiri islam, mengapa kita tidak mengumandangkan hal yang sama:
kiri Kristen? Ini merupakan hal yang menarik, kecuali jika menjadi Kristen
sudah merupakan jaminan untuk menjadi kiri.
Hidup kiri !! :)
Semarang,
September 2012