Selasa, 30 Oktober 2012

kepada JWM: Catatan Pinggir Epistemologi KIRI



Tulisan ini sebenarnya bermula dari sebuah pinjam meminjam buku dengan anak-anak di mana aku mengajar. Aku tertarik pada anak ini karena dia sering disebut menyukai orang-orang ‘kiri’. Ini tulisan yang aku harap bisa mewarnai diri kami semua dalam semangat belajar mengajar

To :  JWM
Catatan Pinggir ‘EPISTEMOLOGI KIRI’


Sebuah catatan pinggir tentunya tidak akan banyak. Sebuah catatan pinggir bukanlah tulisan utama. Dia hanyalah pengingat inti, pengkait makna, perumus masalah ke depan. Dia tidak berpretensi menjabarkan, hanya memberi komentar.  Bukan tulisan utuh, namun sekedar rangsangan pemahaman.
Karena nya catatan pinggir tidak akan menggantikan tulisan utama. Bukan bermaksud mengganti kebenaran penulis buku. Dia adalah catatan dari orang yang membaca buku yang dituliskan. Meskipun demikian, catatan pinggir ini dibuat dengan harapan semoga berguna :) 

    Pertama, buku ini adalah buku ‘bombastis’ (dalam pengertian netral) yang berupaya menjabarkan kumpulan pemikiran tokoh-tokoh ‘kiri’ ternama. Kenapa saya sebut bombastis, karena tokoh-tokoh yang dipilih adalah tokoh-tokoh utama. Mencoba mengungkapkan pemikiran mereka adalah sebuah upaya pencarian yang luar biasa mulianya, sekaligus luar biasa sulitnya tentunya. Dan karena materi buku ini dibuat pada awalnya sebagai kompilasi tugas dari sebuah perkuliahan, maka pendalaman terhadap tiap tokoh menjadi tugas yang harus dilanjutkan. Apalagi kalau membaca tulisan para penulis terhadap tiap tokoh (dilihat dari daftar pustakanya saja,terlalu banyak tulisan kedua – tulisan bukan dari tokoh utama), ada hal yang seharusnya lebih dalam untuk dikupas (contoh mengenai Karl Marx, dialektika Hegel terlihat digambarkan, hanya saja mengapa menjadi materialistis dan secara real menjadi  pola borjuis dan proletar kurang dapat dijelaskan. JWM, dialektika itu pola dialog: tesis-antitesis-sintesis. Pola ini dipakai untuk mencari hal yang baru: ada teori, diragukan, ditemukan hal yang baru. Untuk Karl Marx semua menjadi pola borjuis, proletar, sosialis. Untuk Marx pola sosialis akan menjadi hasil akhir dan sebuah keniscayaan dalam masyarakat mana pun). Hanya saja, sebagai sebuah tulisan pendalaman awal (pengantar), tulisan ini cukup baik untuk dibaca (mungkin buku ini juga seharusnya disebut ‘catatan pinggir tokoh kiri’ hehe).
  Kedua, buku ini memiliki terminologi yang unik, yang seharusnya dibaca oleh para pembelajar sosiologi atau ilmu social. Menurut saya bacaan ini sangat berat untukmu,JWM. Tapi untuk mengetahui khazanah dunia social saya pikir ini cukup baik. Saya ingin jelaskan sedikit tentang ‘kiri’ yang selalu diidentikkan dengan atheis, komunis yang tampak berkonotasi negative. Padahal ‘kiri’ lebih identik dengan dinamika, semangat bergelora tanpa henti. Anti status quo (mungkin juga bisa diartikan anti ‘kemapanan’. Kemapanan di sini diartikan sebagai sesuatu yang statis). ‘Kiri’ diartikan ‘kritis’ terhadap sebuah situasi yang ada. Sebenarnya, pola pikir kiri seharusnya harus selalu ada di dalam diri kita. Kita harus selalu mengkritisi diri untuk berbenah. Bukannya jika kita berhenti berbenah (bersikap kritis pada diri kita sendiri sekali pun, maka kita bisa dikatakan ‘mati’). Itulah dialektika kiri. Menurut ku, Yesus juga adalah ‘seorang kiri’, dalam pengertian mendobrak kemapanan para tokoh Farisi dan Saduki. Yesus tidak menyukai aturan yang menjadikan manusia menjadi tidak manusia lagi.
   Ketiga, sebagai buku yang mengupas tentang ‘pemahaman kiri’ tampaknya ke-kiri-an para penulis cukup nampak dengan memberikan alternative tokoh yang unik (tiga tokoh Asia, Islam: Mohammed Arkoun, Hassan Hanafi, Asgar Ali). Biasanya, bicara mengenai Epistemologi (pokok dasar ilmu) tokoh yang diambil biasanya dari Barat. Tetapi pilihan para penulis menjadi menarik karena ternyata diskusi ‘kiri’ juga menyentuh dunia Islam, sebuah agama yang terkenal mapan dan sulit berubah.  Tokoh-tokoh yang diambil menunjukkan bagaimana pergumulan ke-islam-an mereka yang ternyata tidak hanya satu warna. Tentunya ini ingin menunjukkan bahwa pemikiran kiri adalah pemikiran yang lintas agama dan budaya, sekaligus menunjukkan ke-kiri-an para penulis yang mencoba bersikap kritis terhadap pemikiran kebaratan.
   Keempat, sekaligus mencoba bersikap kiri, saya pikir kita harus tahu batasan ‘menjadi kiri’. Batasannya bukanlah ‘kanan’. Karena dalam posmo, sekaligus diulas di bagian akhir buku ini, kiri dan kanan menjadi lebur tanpa batas yang jelas. Kiri memahami kanan dan kanan membutuhkan kiri. Ini bukan masalah artificial, tapi sesungguhnya tidak ada yang hanya kiri dan tidak ada kanan yang hanya kanan. Karena setiap orang sekaligus kritis tapi sekaligus perlu kemapanan. Ada kepastian yang harus tetap dimiliki, sekaligus ada keinginan mempertanyakan kepastian yang dipunyai. Nietzche menggambarkan hidup seperti kapal yang lepas tanpa diikat dermaga, tetapi sesekali dan kapal membutuhkan dermaga! Kapal harus diikat di dermaga, karena hidup tanpa kepastian akan menjadi nihilis (tanpa tujuan, tanpa arah, bahkan tanpa harapan). Maka, sepakat dengan Habermas, kemajuan/kesepakatan harus terus diupayakan meskipun perbedaan tetap diakui, bahkan dikembangkan. Jadi  menjadi kritis bukan berarti tanpa kesimpulan. Kesimpulan harus didapatkan dan diupayakan melalui komunikasi aktif (diskusi). Tapi kesimpulan itu harus dikritisi ulang lagi :) Itulah dialektika. Itulah hidup, sebuah perjuangan tanpa henti-henti :)
Batasan kedua adalah iman. Iman adalah sesuatu yang dipercayai tanpa pertanyaan. Karena ketika pertanyaan itu terjawab, maka namanya bukan iman lagi. Iman memang selalu ditanya, dan mencari jawab (itu memang harus). Tetapi selalu ada ruang terbuka yang dibiarkan tanpa jawab, atau diarahkan kepada sesuatu yang diimani (Kalau kita: Kristus, Allah, dan lain sebagainya). Sebenarnya semua hal selalu membutuhkan iman (dalam ilmu umum disebut aksioma, sebuah hal yang dipercayai dan tidak akan ditanyakan). Contoh: untuk matematika,seseorang membutuhkan iman bahwa ada angka yang namanya satu (1), dua (2), dan seterusnya…tanpa mempertanyakan apakah angka satu itu benar-benar ada. Itulah iman: percaya bahwa ada sesuatu yang disebut satu, dua dan lain sebagainya.  Jadi batasan kiri yang kedua adalah iman :)

    Demikianlah catatan pinggir saya JWM. Jangan pernah berhenti menjadi kritis. Tetaplah menjadi kritis pada apa pun dan pada siapa pun (termasuk pada iman, dan meskipun harus berhenti karena iman, minimal menjadikan kita paham mengapa kita beriman). Kalau Hassan Hanafi mengumandangkan kiri islam, mengapa kita tidak mengumandangkan hal yang sama: kiri Kristen? Ini merupakan hal yang menarik, kecuali jika menjadi Kristen sudah merupakan jaminan untuk menjadi kiri.
Hidup kiri !! :)

Semarang, September 2012

Senin, 04 Juni 2012

Pada Sebuah Masa

Jika perubahan terjadi hanya dalam sedetik, apakah siap?
    Sebenarnya aku bukan orang yang sungguh-sungguh terencana. Secara garis besar aku tahu apa yang aku tuju. Tapi ya itulah...masalahku ada dua: aku ini pelupa, jadi sering lupa bahkan pada garis besar tujuan. Wedew... Selain itu, karena rasanya aku tidak nyaman terikat. Mungkin keduanya berhubungan... isn't it?
Tapi betul kata bunda, aku ini harus memiliki program. Aku ini laki-laki, harus bisa menentukan dan berani memutuskan, serta fokus. Tapi apa ini cuma masalah laki-laki? Mungkin tidak...dasar budaya!
    Padahal menurutku hidup ini bagai samudera. Mengombak, mengalun, mengalir ... tenang, menghanyutkan, bergelora. Itulah hidup. Tidak semua tenang, tidak semua mengalir, tidak semua menghanyutkan. Kadang bergelora, berombak, bahkan badai datang menenggelamkan. Kadang gelap...membuat aku takut berlayar. 
     Tapi itulah hidup, sebuah gambling yang beresiko, sukses atau gagal. Itulah dinamika hidup. Hidup yang menarik untuk dijalani... Tapi meskipun demikian, ternyata aku masih mereka-reka rencana. Minimal rencana yang umum. Jika tanpa rencana atau ada perubahan mendadak, maka kacau juga pasti hidup ini.
Meski sepakat dengan Nietzche, hidup menurutku bagai kapal di atas samudera. Kapal yang kadang berlabuh dengan tentram. Berlabuh di kebenaran yang diyakini. Berlabuh di aturan masyarakat yang dikumandangkan. Berlabuh dalam agama yang menentramkan. Namun hidup bukanlah berlabuh. Hidup adalah berlayar, kadang terapung, kadang terombang-ambing, kadang melaju...kadang badai. Itulah hidup. Dan saat kita lelah, kita berlabuh, kita ber-pulang... Bukankah itu hidup? Hidup adalah bertanya, hidup adalah eksperimen.
   Tapi jika semua berubah dalam sedetik, ngeri juga... Tapi bukankah perubahan adalah sebuah 'blink', sesuatu yang sekejab, meski sudah dipikirkan dan dipertimbangkan?? Bahwa Y putus dengan  adalah sebuah kejadian sesaat dan sekejap...Tapi, secara teori apa aku siap? wedew, ngeriiiii....

   Sepertinya aku dituntun ke arah ini. Let it flow...Terus semangat! Jangan takut!! Tetap tersenyum!!! Hidup ini mengalir, bersikaplah berani. Hidup ini bergejolak, hadapi! Hidup ini melaju, bersemangatlah!

   Aku akan coba. Memberanikan diri, membuka diri.

    Hari ini dimulai dengan tugas. Ternyata aku lupa menyelesaikan satu nilai. Rasanya semua orang sudah berlenggang, aku merasa demikian juga. Ternyata, seperti biasa, aku lupa sesuatu...:) Yakin belum tentu benar, tenang belum tentu aman. Ternyata aku belum selesai membuat komen satu grade...
    Membuat komen bukan sesuatu yang gampang untukku. Bukan hanya karena komen itu harus bernada positif dan menyemangati, tapi lebih dari itu, karena mengingat nama adalah perjuangan bagiku. Nana, Ninik, Nono, Nanung...yang mana itu ya...aku mencoba mengingat-ingat. Perasaanku semua anak sama di hadapanku, ganteng, cantik, putih, rambut lurus. Entah yang mana nama anak itu.
    Kalau aku diskusi dengan beberapa teman, dengan caraku, aku temui bahwa aku sering salah anak. Kupikir Nana ternyata Ninik. Aku mencoba bersikap tenang, dan mencari tahu dengan caraku. Kadang aku mendekati teman hanya untuk bertanya bagaimana kabar anak kelas X. Waktu dia bercerita aku sering menyela sok tahu sambil mencari tahu siapa saja tokoh-tokoh yang diceritakan. Dari situ aku mencoba membuat komen buatanku.
    Bukan karena tidak perhatian, aku sering melupakan hal-hal detail. Celakanya, hal detail itu yang selalu mengejarku. Bayangkan besok aku harus mengumpulkan komen itu. Sekarang aku berjuang dan harus berjuang. Terus berjuang. Terus mengingat. Pasti bisa!
Memang hidup ini proses mengingat dan melupakan. Semoga aku selalu mengingat hal yang penting untuk diingat dan melupakan sisanya. Semoga 'ingat'ku dan 'lupa'ku mengubah hari-hariku ...hehehe. Semangat ahhhh!!

Minggu, 03 Juni 2012

SEKALI LAGI…PENCARIAN
 
Judul                    : Madre: Kumpulan Cerita
Pengarang            : Dewi Lestari, Dee
Tahun Terbit          : 2011
Penerbit                : Bentang Pustaka Jakarta
Jumlah Halaman    : 160 hal

"Apa rasanya kalau hidup kita berubah dalam sesaat?"

    Seperti biasa, Dee menulis buku sebagai sebuah bentuk pencarian yang terbuka. Terbuka terhadap ilmu baru, terhadap pesan baru, terhadap kritik dan terhadap pembaruan. Tema-tema yang diusung bukanlah tema percintaan, tetapi sebuah petualangan hidup, sebuah pencarian yang tidak kunjung berakhir.
Dalam kisah pertama buku Madre, Dee mengisahkan ‘temuan’nya tentang Madre, sebuah  ‘indukan’ adonan roti.  Jujur, baru saya tahu ada ‘indukan’ seperti itu, yang menjadi bahan roti yang biasa dibuat (Aku tidak tahu apa Dee juga baru tahu dalam pencariannya ..hehe..). Sebab itu pencarian ini menjadi unik dan menarik untuk disimak. Dari pencarian roti, menuju pencarian kesuksesan pekerjaan sampai pencarian cinta. Alur cerita mengalir begitu saja. Dan seperti kisah-kisah Dee (bagi para pembaca Dee yang setia, dapat mulai menebak menuju ke mana pencarian ini).
    Model pengisahan ini berulang pada cerpen-cerpen yang lain: Have You Ever, Semangkuk Acar untuk CInta dan Tuhan, Guruji, Menunggu Layang-Layang. Pencarian yang ternyata ditunjukkan dengan cara yang sederhana, mengagetkan, dan memiliki jawaban yang tidak jauh dari diri mereka. Have You ever, sebuah pencarian cinta yang ternyata ditunjukkan di sebuah mercusuar, melalui bintang selatan, bersama seorang sahabat. Semangkuk acar yang berbicara tentang tafsir yang lepas dari sang pembicara, ketika mereka berbicara tentang Tuhan dan Cinta yang dijelaskan melalui sebuah acar: terasa tetapi tidak tampak… Guruji yang menunjukkan pencarian jatidiri yang senantiasa rentan dengan perubahan, bahkan perubahan yang bisa dijelaskan sekalipun. Layang-layang yang mengarah kepada pencarian cinta, bagai layang-layang yang bebas tapi terikat, tidak lepas meski merasa lepas.
    Dalam beberapa puisinya pun, Dee menuliskan pengalaman pribadinya yang ‘sehari-hari’. Kaya akan perenungan dalam sebuah alur hidup biasa.
    Perenungan hidup, menurutku itu adalah kekuatan tulisan Dee, adalah sesuatu yang lepas tapi terikat. Sebuah tension, tegangan yang tidak pernah berakhir. Penuh resiko, penuh dengan semangat. Hidup itu bisa. Hidup memang tampak biasa, dan memang biasa. Tapi dalam hal yang biasa itu ada hal yang bisa didalami. Hal yang menarik ketika diteliti, seperti fungi (nantinya akan dikupas dalam Supernova: Partikel), Madre, kebetulan, pribadi, cinta, persahabatan…diulas dengan jujur dan apa adanya. Tanpa pengaruh agama (adakah? Mungkinkah ini bentuk kepercayaan, karena menurut beberapa ahli ternyata tidak ada hal yang kita lakukan terlepas dari ‘believe’. Seperti diakui Dee, inilah New Age?!) yang mengikat dan tampak menakutkan, Dee mengisahkan pencarian dalam samudra kehidupan yang luas dan kaya.
    Tentunya, tema-tema ini menarik. Hanya saja dalam sebuah tegangan diri, sebagai pembaca, kadang diri ini perlu diperkaya dengan bentuk-bentuk yang lain. Tidak hanya satu model, tapi diperkaya dengan model lain. Sebuah tegangan antara tertarik pada tulisan Dee sekaligus bosan. Tapi bukankah itu hidup? Sebuah pencarian yang tidak berakhir … yang terbuka pada segala kemungkinan. Mari berlayar!!

Minggu, 27 Mei 2012


… PULANG …

Judul            : Supernova 4: PARTIKEL       
Pengarang    : Dee, Dewi Lestari
Penerbit       : Bentang Jakarta
Jenis            : Novel
Halaman      : 486 hal



“Problemku terbesar adalah mempercayai spesies Homo Sapiens..”


    Kisah bercerita tentang seorang tokoh bernama Zarah. Perempuan cerdas, berani dan memiliki ambisi yang kuat dalam hidupnya. Tak dikisahkan bagaimana kecantikannya. Tampaknya bagi Dee kecantikan wajah bukanlah hal yang menarik untuk dibicarakan. Zarah memiliki kepribadian yang kuat. Lahir  dari keluarga yang ‘mengandung polemik’: ayahnya adalah saudara angkat ibunya. Ayah Zarah, Firas,  adalah anak angkat dari keluarga ibunya,Aisyah. Dia diangkat Abah Hamid Jalaludin saat orang tuanya meninggal akibat kecelakaan. Cinta dan perkawinan menjadikan keluarga Abah Hamid menjadi beku dan menyisakan permasalahan yang terus berlanjut.
    Zarah turunan orang cerdas. Firas terlahir dengan kemampuan yang luar biasa hingga dia bisa menjadi dosen di IPB. Keunikan dan minat Firas tampaknya membuat dia dengan yakin mendidik Zarah seorang diri, tanpa institusi sekolah. Ketidakpercayaan pada institusi sekolah dan minat yang kuat pada hal ilmiah menjadikan didikan terhadap Zarah di atas rata-rata anak seusianya.
Fungi, kata dan benda itulah yang menjadi minat utama dari Firas.Dalam pencarian akan minatnya, ternyata dia menemukan bahwa fungi adalah sebuah enteogen (tanaman yang mampu menjadi jembatan antara dunia jasmani dan dunia spiritual )yang kuat . Dalam pertemuan dengan jamur inilah Firas menemukan bahwa inderanya dapat diperluas dan dia dapat bertemu dengan shaman (roh penghubung dunia jasmani dan dunia roh). Pengalaman ilmiah dan pribadi pada ‘pertemuan’ ini menjauhkan Firas dari keluarga, pekerjaan dan lingkungannya.
    Zarah, dibebani dengan pencariannya terhadap Firas, yang hilang hingga akhir cerita, melanjutkan pemikiran Firas. Dialah anggota keluarga yang sangat memahami pemikiran sang ayah. Sebagai seorang pribadi, Zarah adalah pribadi yang unik. Kuatnya dia memegang prinsip akhirnya menuntuk dia pada pencarian yang tidak bertepi tentang apa yang dia CINTA: persahabatan, alam, kebenaran dan … AYAH!

KEBENARAN DARI DALAM
    Gambaran temperamen Zarah menunjukkan bahwa dia sebenarnya adalah pribadi berkarakter dominan. Pemikirannya tegas, lugas, tidak berbelit. Keberanian memutuskan dan tidak tunduk pada situasi yang ada di sekelilingnya. Dan satu lagi, dia sangat REALIS! Sebagai seorang realis, ketakutannya hanyalah pada manipulasi. Dia tidak dengan mudah mempercayakan hidupnya pada apa yang ada di depannya. Dia mempercayai dirinya sendiri. Namun dalam hidup, ternyata dikisahkan bagaimana seseorang harus melepas kepercayaan itu pada CINTA.
    Cinta Zarah pada Firas membawanya pada  petualangan yang unik. Dengan menekuni bidang minat Firas dia menemukan pengalaman yang menarik mengenai ‘kebenaran’! Tampaknya inilah yang menjadi salah satu bagian yang hendak di-share-kan Dee. Kebenaran bukanlah dari luar! Kebenaran itu sudah ada di dalam. Alam adalah sesuatu yang menyatu. Sebagai sebuah system ternyata ada kode yang sama dalam setiap bagian alam. Dan itulah yang menggerakkan alam: PARTIKEL, itulah arti nama Zarah!
    Kebenaran sebenarnya sudah tergambar dalam kode diri setiap mahluk. Dalam komunikasi dengan seluruh bagian alam, maka ‘partikel’ itu akan menyatu dan kebenaran akan muncul. Oleh sebab itu, dimungkinkan komunikasi dengan apa saja, termasuk tumbuhan. Mereka paham, dan berbicara, hanya saja dalam bahasa mereka. Mereka bergerak, mereka hidup! Partikel lah yang menyatukan semua mahluk. Alam yang satu mengakibatkan kerusakan pada alam akan merusak segala sesuatu.
    Kesadaran akan Partikel ini dapat dipertajam dengan adanya enteogen. Enteogen memampukan manusia untuk memperluas daya tangkapnya terhadap sesuatu di luar dirinya. Inilah yang disebut dengan ‘tras’ atau ‘halusinasi’. Fenomena terakhir bukanlah sebuah penyimpangan, tetapi sebuah kelengkapan. Kelengkapan untuk menangkap fenomena yang lebih luas, yang ada, demi komunikasi kebenaran. Di sinilah Zarah bertemu dengan Abah yang sudah meninggal. Pertemuan hati yang saling mengasihi tanpa komunikasi di dunia jasmani. Juga di sinilah muncul bayangan tentang ET, Alien, malaikat … sesuatu yang sulit dijelaskan oleh ilmu kasat mata.
    Cinta juga yang akhirnya membuat Zarah menemukan Koso, Storm, Paul, Zach… dan Sarah, simpanse yang diasuhnya. Cinta mengajarkan Zarah pada kelemahan manusia. Kelemahan manusia yang tidak bisa sendiri. Manusia yang harus mempercayai sesuatu. Cinta, yang ada di dalam diri manusia, itulah yang menggerakkan manusia untuk mencari. Dialah energy utama untuk mencari kebenaran yang sejati. Semua itu berada tidak jauh  dari manusia, di dalam diri manusia!

PULANG
    Semua pencarian Zarah bermuara pada satu kata, PULANG. Pulang adalah sebuah kata yang sulit untuk orang yang sedang mencari, orang yang menyukai dinamika. Tapi ternyata itulah yang disampaikan sebagai konklusi. Pulang kepada diri, pulang ke Indonesia, pulang ke rumah.
    Mengutip istilah Nietzche, inilah moment ‘berlabuh’ yang dinanti. Kelelahan pencarian membuat manusia akan menemukan arti dalam keber-pulang-an. Tidak dikisahkan bagaimana akhir cerita. Apakah Zarah tetap akan ke London? Atau akankah dia tetap di Indonesia? Tapi satu hal yang dicatat: dia pulang.
Pencarian Zarah pada ayahnya membuat dia meninggalkan keluarganya, yang tidak menyukai kondisi Firas yang berbeda dari orang kebanyakan. Dimulai dari hadiah kamera Nikon FM2/T, yang entah dari mana (belakangan diketahui itu dari Simon Hardiman, korespondesi ayahnya), menjadikannya pemenang lomba (juga entah oleh siapa fotonya disertakan lomba). Hadiah ke Kalimantan membuatnya tinggal di Kalimantan, bertemu Sarah yang berujung pada keberangkatan ke London karena Paul dan Zach.
    Sebuah pengalaman hidup yang dinamis: mulai dari pencarian ayah, persahabatan dengan Koso, kekuatan cinta alam Sarah, pekerjaan dan Storm, hingga pertemuan dengan Simon Hardiman dan Hawkeyes. Dinamika yang digambarkan saat menggairahkan, bergejolak dan penuh makna. Seakan hidup memanglah hidup. Itulah gambaran sosok Zarah. Tapi semua itu bermuara pada satu kata: pulang.
    Kisah diakhiri dengan keinginan Zarah untuk pulang, ke rumah yang ternyata dirindukan. Pada ibunya yang sulit dimaafkan. Pada Hara, sang adik Penunggu (sedang Zarah digambarkan sebagai Pencari). Pada Umi, sosok religious pendamping Abah. Dan itulah saatnya: absurd, tanpa penjelasan mengapa harus pulang. Tapi ‘pulang’ adalah jawab yang tepat tanpa banyak alasan dikemukakan.
   
    Supernova memiliki tema yang satu: pencarian. Sebuah pencarian makna hidup. Dan kali ini pencarian ini ditemukan dengan PULANG PADA DIRI. Mungkin inilah gambara Dee yang dinamis, yang tidak mempermasalahkan fisik dan tampilan, tetapi mementingkan kekuatan temperamen. Sebuah sosok dimanis dan berani mencari dengan pengalaman sendiri. Dilihat dari reverensi, kisah ini bukan sekedar fiksi asal karena disertai data dan pengalaman religious pribadi Dee. Pengalaman yang bermuara pada pencarian dari dalam, pengalaman pulang.
    Waktu Nasya, anak didikku, bertanya “apakah betul Jamur adalah awal segala sesuatu, karena buku ini menulis demikian?” aku menjawab sekenanya. Sekarang aku tahu bahwa PARTIKEL adalah jawabannya. PARTIKEL adalah inti diri. Inti dunia. Inti ke-pulang-an.





Senin, 12 Maret 2012

STRUKTURALISME SAUSSURE: SEBUAH PENDEKATAN AWAL

Selitas Pandang Strukturalisme
Menurut Bertens, Struktutalisme mempunyai sebuah kesulitan yang unik:
1.    Istilah ini tidak memiliki satu arti, dipakai di berbagai bidang kehidupan; bahkan strukturalisme Prancis beda dengan strukturalisme Amerika
2.    Levi Strauss, salah satu bapak strukturalisme bukanlah filsuf, tapi antropolog
3.    Tidak semua tokoh aliran ini mau disebut kaum ‘strukturalis’
Nah, bingung gak loe…
Yang pasti strukturalis adalah reaksi melawan fenomenologis (yang ada kaitan dengan eksistensialisme).  Di sini Ferdinand de Saussure muncul sebagai sebuah nama yang membawa kesatuan dalam pemikiran strukturalisme (meskipun masih ada perbedaan, tapi ada inti yang diikat oleh pemikiran Saussure), dengan membawa strukturalisme kepada teori linguistic.

Konsep Saussure: Sebuah PENGANTAR
1.    Teori bahasa dan tanda bahasa: Signifiant – Signifie
Konsep pembedaan ‘tanda’ ini adalah inti filsafat Saussure. Secara umum Saussure menitik beratkan pada filsafat bahasa sebagai obyek, yang lepas dari obyek benda yang dibicarakan. Kalau sebelumnya, kata ‘pohon’menunjuk kepada obyek/realita pohon di depan, maka menurut Saussure kata ‘pohon’ menunjuk kepada ‘konsep akan benda’ (sebuah pemikiran abstrak/metafisika). 
Secara umum juga dipahami bahwa kata-kata dibuat setelah ada (untuk menamai) konsep/obyek  yang dipikiran. Saussure menyatakan keunikan filsafat bahasa, yaitu bahwa suatu kata tidak pernah muncul begitu saja tanpa makna. Sebab itu ‘tanda bahasa’ dibagi 2, yaitu le significant (the signifier) dan le signifie (the signified). Signifiant (Signifier) adalah kata yang terucap, aspek material bahasa, apa yang didengar atau dibaca. Signifie (Signified) adalah gambaran mental yang muncul.  Kedua aspek ini tidak mungkin dilepaskan.
Hubungan keduanya bersifat arbitrer, bukan natural. Artinya bahwa dua tanda itu muncul dalam sebuah ‘struktur’ / ‘sintagmatik’ (yang sebenarnya kata ‘struktur’ tidak banyak ditemukan dalam tulisan Saussure, Cuma 3 kali ?!?), yang tiap tempat sangat mungkin beda. Jadi ini dibuat dan situasional (sinkronis, bukan diakronis).
2.    Hubungan relasi antar tanda
Relasi antar tanda seperti disebut di atas, bersifat sintagmatik (sebuah rangkaian dalam ruang dan waktu yang sama dan bersigat praesentia – sesuai dengan tempat dan waktu itu); Contoh:  Bella - makan - nasi. Urutan ketiga  kata ini tidak sembarangan. Inilah fungsi sintaksis. S-P-O, meski diubah posisinya, namun gramatikalnya tetap, terikat oleh linearitas bahasa. Contoh: Bella makan nasi. Pengganti kata ‘bella’ mungkin adalah ‘debora’, ‘kezia’, ‘reiner’ (tidak mungkin ‘air’, ‘mengganggu’, ‘kipas angin’, dll). Relasi sintaksis inilah yang disebut struktur!
Relasi antar kata ini disebut sebagai relasi asosiatif, di mana setiap kata hadir dalam relasi in-absentia. Bahwa kata tertentu selalu dihubungkan sebagai ‘kelanjutan’, ‘berbeda dari’, ‘bukan’, atau ‘sama dengan’. Relasi ini juga disebut relasi paradigmatic. Setiap petutur selalu menguasai semacam jejaring unsur-unsur bahasa yang tergolong dalam paradigma tertentu  dan saling membedakan. Jejaring ini disebut system.
3.    Teori: Lague – Parole
Bahasa sebagai gajala social disebut ‘langage’, yang terdiri dari dua tataran: social/lintas individu, kaidah, konsep (langue) dan praktek bahasa dalam masyarakat (parole). Orang tidak akan mengerti parole jika tidak memahami langue. Orang tahu konsepnya dulu baru bisa menggunakan. Di sini langue tiap tempat berbeda (ingat konsep sinkronistis!)
4.    Bahasa lisan lebih penting daripada bahasa tulisan
Bahasa lisan adalan bahasa yang paling dekat dengan makna sebenarnya. Bahasa tulisan dalah turunan dari bahasa lisan. Sehingga penelitian linguistic hanya difokuskan pada bahasa lisan
5.    Konsep sinkroni dan diakroni
Menurut Saussure, linguistic harus lebih dahulu memperhatikan sinkroni, baru diakroni. Syn(bersama)-khronos(waktu) artinya bertepatan menurut waktu; sebuah pemikiran bahwa hal tersebut lepas dari perspektif historis, peninjauan ahistoris. Sedangkan dia (melalui) – khronos (waktu), artinya menelusuri waktu; sebuah tinjauan historis.
Para peneliti bahasa mencoba melihat makna melalui relasi historis (komparatif-historis). Misalnya: untuk meneliti makna ‘Sekolah’ (bahasa Indonesia), para ahli bahasa harus melihat istilah Yunani ‘skhole’ (waktu luang). Hal ini yang ditentang oleh Saussure. Menurutnya, makna bahasa harus dilihat lepas dari perbandingan kata di wilayah yang berbeda, karena struktur bahasa ada dalam wilayah itu sendiri. Di sini muncul penelitian structural.
Hal ini bukan berarti bahwa Saussure tidak menggunakan pendekatan diakronos, tapi pendekatan sinkronos memang lebih diutamakan. Linguistik komparatif baru digunakan untuk melihat perbandingan system struktur bahasa di tempat tertentu dengan tempat yang lain.

Konsep struktur dapat dipahami secara ‘minimalis’ atau ‘holistik’. Secara minimalis, struktur mencakup konsep system. Yang penting adalah relasi antar komponen. Menurut Saussure struktur terwujud dalam dua pengertian: yang bersifat sintagmatik dan asosiatif. Relasi sintagmatik adalah relasi antarunsur dalam ruang dan waktu yang sama. Sifatnya pra-esentia, dan membentuk STRUKTUR. Relasi asosiatif adalah relasi antarunsur yang diasosiasikan, jadi tidak dalam ruang dan waktu yang sama. Inilah in-absentia, dan membentuk SISTEM. 
Struktur dan system hadir bersamaan dalam kognisi manusia. Sedangkan secara holistic, struktur dimaknai sebagai totalitas unsur-unsur yang berkaitan satu sama lain, pra-absentia atau in-absentia.
Tiga sifat struktur: totalitas, dapat bertransformasi, membentuk otoregulasi (saat transformasi membentuk relasi baru). Jadi Prinsip Dasar Strukturalisme: struktur dan system hadir bersama, bersifat abstrak (ada dalam kognisi manusia), merupakan satuan yang tertutup dan memenuhi dirinya sendiri.

Menurut pembaca, ini adalah konsep yang menarik, untuk dibaca dari buku aslinya 

Sumber:
-    Hoed, Benny. Derrida vs. Strukturalisme de Saussure, dalam Basis (Derrida) no 11-12, tahun ke 56, November – Desember 2007
-    Bertens, K. Filsafat Barat Abad XX Jilid II “Perancis”

Senin, 27 Februari 2012

THE WORLD IS FLAT

Penulis                    : Thomas L. Friedman
Penerbit                  : Dian Rakyat Jakarta
Cetakan Pertama    : 2006

“Columbus berangkat dengan asumsi dunia ini bulat…. Columbus melaporkan kepada raja bahwa dunia ini bulat, karenanya ia dicatat sebagai orang pertama yang menemukan hal ini. Sementara itu, ketika pulang, saya hanya menyampaikan penemuan itu pada istri sendiri sembari berbisik: ‘Sayang, saya kira dunia ini datar’…. ”
     

    Sebuah judul yang menggugah yang menyatakan betapa dunia kembali mengalami revolusi setelah revolusi jaman Columbus, di mana ditemukan dunia bulat. Jaman Columbus, perjalanan antar pulau antar benua jarang dilakukan karena adanya pemahaman bahwa dunia ini datar. Dipercaya ada wilayah yang disebut jurang bumi, tempat di mana banyak pelaut tidak akan kembali lagi jika terperosok di dalamnya. Sebab itu, temuan Columbus membuka kesempatan dunia untuk mencari pengalaman ke wilayah lain dan membuka revolusi dunia.
    Hanya saja, secara provokatif, Thomas L. Friedman menyuguhkan bahwa dunia saat ini ternyata memasuki era ‘datar’. Dimaksud sebagai dunia yang datar karena dunia memasuki babak baru di mana tidak terdapat kesulitan berelasi antar wilayah, tidak ada perbedaan kesempatan untuk berkembang bagi berbagai wilayah dunia dan munculnya kesempatan bagi setiap orang untuk berkembang dan berpendapat. Dunia datar ditandai dengan munculnya kerjasama/rantai jaringan seluruh dunia, meluasnya pengaruh dan keunikan-keunikan tertentu di berbagai wilayah dunia, seperti: munculnya burger dan kentang goreng di berbagai wilayah dunia.
    Friedman menyebutkan adanya 10 kekuatan yang mendatarkan dunia:
1.    Runtuhnya tembok Berlin 9 Nopember 1989
2.    Zaman konektivitas: Web & Netscape
3.    Perangkat lunak alur kerja
4.    Uploading
5.    Outsourcing (pengambilan sebagian dan mengkolaborasikan)
6.    Offshoring (pemindahan utuh)
7.    Multiply Chaining (rantai kerja yang efektif, efisien, terpercaya)
8.    Insourcing (kolaborasi badan usaha yang menjadikan lebih kompleks tapi lebih efektif)
9.    Informing
10.    Steroid (digital, bergerak, personal, virtual)
    Jika saya mencoba gambarkan secara garis besar (baca:kasar), 10 kekuatan pendatar dunia (Friedman, lagi-lagi secara provokatif menyebut angka 10 bagai 10 perintah Allah, sebuah rambu yang HARUS terjadi) sebagai munculnya semangat jaman di mana setiap orang merasa membutuhkan aktualisasi dan pengakuan sebagai diri yang sejajar dengan orang lain. Pada titik ini maka runtuhnya tembok Berlin menjadi pertanda di mana kekuatan Negara (baca: sosialis) tidak lagi laku dalam semangat jaman.
    Apalagi jika didukung oleh keunikan internet, web dengan http nya. Semangat individu ditambah dengan kemampuan terhnologi membuat setiap orang masuk dalam dunia uploading, di mana setiap pribadi diakui eksistensinya secara sama mampu menuliskan apa yang dia inginkan.
Memang menjadi pertanyaan setelah setiap pribadi memiliki kemampuan untuk mandiri, di manakan peran Negara. Negara berada dalam dilemma ketika harus melindungi penduduknya dari serbuan modal asing melalui (outsourcing, offshoring, multiply channing, insourcing). Dalam dunia yang serba cepat, di mana informasi dapat diakses dimana-mana dengan kecepatan seperti steroid, maka seluruh elemen (Negara maupun warga) harus siap menghadapinya.
    Globalisasi menurut Friedman dibagi dalam 3 era:
1.    Globalisasi 1.0, globalisasi dengan tatap muka di mana setiap orang dalam satu waktu harus mengatur waktu untuk bertemu dan bertatap muka satu dengan yang lain. Transportasi tentunya memenuhi syarat untuk ini
2.    Globalisasi 2.0, globalisasi ini mulai menggunakan tehnologi sebagai salah satu alat pengganti tatap muka. Mesin ATM dan loket tiket sudah diganti secara mesin. Pengecek kehadiran tidak lagi manual, tetapi berbasis mesin
3.    Globalisasi 3.0, globalisasi dimana setiap pribadi mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Setiap pribadi dengan akses yang dimiliki mampu melakukan transaksi tanpa harus bepergian ke mesin atm atau loket pembelian.
    Kembali kepada masalah siapa diuntungkan dalam globalisasi, tampaknya Friedman berpendapat bahwa terdapat seleksi Darwinisme yang ketat untuk menentukan siapa akan mengeksploitasi siapa? Bagi Friedman, tampaknya Globalisasi 3.0 tidak dapat dihindarkan. Pertanyaannya adalah apakah semua siap? India menunjukkan taji nya dengan kemampuan berbicara dalam aras tehnologi hingga dapat bersaing dengan pemerintah AS dalam meng up grade departemen tenaga kerja, dengan biaya yang relative murah tapi berkualitas, di Negara bagian Indiana! Padahal Indiana sedang berusaha menutup diri dari outsourching. Siapa mengeksploitasi siapa?
    Tampaknya bagi Friedman masalah utama terletak pada kesempatan, dan bukan pada kesetimbangan harga. Friedman menilai bahwa setiap wilayah memiliki ukuran yang berbeda-beda (termasukd dalam system gaji), sehingga bukanlah sebuah masalah jika orang India mendapat harga yang lebih murah dari orang Amerika meskipun harga itu lebih tinggi dari penghasilan orang India rata-rata.  Bagi Friedman ini adalah kesempatan bersaing yang bisa berarti saling menjatuhkan.
    Oleh sebab itu, Friedman melanjutkan dengan tesis selanjutnya bahwa inti masalah terletak pada bagaimana seorang atau sebuah Negara mampu menjual ide yang brilian dan maju. Apa yang dimiliki seorang pribadi menjadi nilai jual yang unik dalam percaturan global. Oleh sebab itu, Globalisasi menjadi sebuah hal yang menantang. Menantang munculnya kelas menengah baru. Sebuah kelas dengan kemampuan intelektual, bukan financial! Sebuah kelas yang mampu menawarkan sebuah terobosan dan keunikan baru di tengah tata dunia yang baru. Dan di sini, tentunya sekali lagi, dengan sangat percaya diri, Friedman menegaskan bahwa Amerika adalah pemimpin dunia baru ini.
    Pada bagian selanjutnya, Nampak bagaimana tesis Friedman melaju kepada hal-hal mendasar berkaitan dengan penghambat globalisasi 3.0. yaitu meliputi: infrastruktur, program pendidikan dan regulasi perpajakan sebuah Negara. Friedman selanjutnya mencoba mengkritisi kesiapan Amerika sendiri dalam menghadapi Globalisasi 3.0:
1.    Terjadi penurunan angka-angka tingkat minat pendidikan kesarjanaan dan pascasarjana sains di America
2.    Kalah bersaingnya pendidikan penduduk asli terhadap immigrant
3.    Kurangnya semangat penduduk Amerika untuk berambisi, terlalu terbuai dengan TV, video game dan game online
4.    Kurangnya pendidikan di aras bawah. Pendidikan kurang memancing ke arah pemandirian
5.    Pendanaan ke arah sains yang minim
6.    Lambatnya akses infrastruktur, missal: lambatnya internet dan kurangnya penggunaannya secara efektif dan efisien
    Bagi Friedman sesungguhnya yang banyak berperan di sini adalah para pemimpin. Pemimpin seharusnya memiliki program-program yang tidak meninabobokan warga, tetapi memampukan warga untuk lebih kreatif dan inovatif. Bukan berarti bahwa setiap tunjangan harus dihilangkan, tetapi ada beberapa tunjangan yang buruk dan tidak mendidik jika dipertahankan (Friedman menyatakan sebagai lemak buruk). Tunjangan yang baik untuk dipertahankan dalam globalisasi 3.0 misalnya disebutkan: tunjangan (asuransi) gaji, tentunya dengan syarat-syarat yang tidak mudah dan tidak membuat orang menjadi malas untuk mencari kerja (salah satunya: asuransi dibayarkan jika orang tersebut sudah mendapatkan pekerjaan yang baru). Selain itu, Friedman juga mengetengahkan adanya pola asuh dan aktivitas social dari perusahaan-perusahaan besar. Hal ini akan menyeimbangkan keuntungan yang diraup, sehingga tidak timpang.
    Sementara itu bagi Negara berkembang, globalisasi 3.0 memberi tantangan. Salah satunya adalah glokalisasi, dimana hal-hal local dari sebuah Negara menjadi global dan memiliki keuntungan tersendiri. Selain itu, dalam laju globalisasi 3.0 setiap Negara memiliki kemampuan dan kesempatan yan sama. Kesempatan untuk menjadi besar dan berkembang lebih lagi.  Oleh sebab itu beberapa nasihat diberikan oleh Friedman:
1.    Gali potensi Anda
2.    Ambil kesempatan dalam kemajuan tehnologi dan kolaborasi untuk meraih hal sebesar-besarnya
3.    Bertindak kecil dan biarkan konsumen bertindak
4.    Kolaborasikan diri sebanyak-banyaknya
5.    ‘Rontgen’ diri secara regular dan jual hasilnya pada klien
6.    Outsourcing dengan tujuan pengembangan bukan penyusutan
7.    Outsourcing tidak hanya untuk pekerja tapi juga untuk kaum idealis
    Meskipun dunia datar menjanjikan banyak hal, ternyata beberapa masalah bisa muncul dalam dunia datar 3.0. Maraknya pornografi, menyebarnya penyakit, masalah terorisme, kemajuan yang tidak dibarengi dengan pemikiran yang seimbang mengenai alam ternyata menjadi masalah pokok yang dihadapi globalisasi 3.0. Menghadapi ini Friedman menyampaikan bahwa Negara-negara seharusnya menjadi actor-aktor local yang mencegah kehancuran dunia dalam perubahan budaya yang terjadi dan tidak terbendung dalam globalisasi 3.0. Selain itu, Negara memiliki kemampuan untuk menjadikan setiap warga semakin bermartabat dan menikmati globalisasi 3.0. Jika kemajuan dinikmati setiap warga, maka gejolak menghadapi globalisasi 3.0 dapat dihindarkan. Untuk itu setiap warga perlu disiapkan!
    Hal lain yang perlu dibangun adalah imaginasi. Bagaimana mengisi imaginasi globalisasi 3.0 sebagai sebuah tantangan yang positif dibandingkan sebagai sebuah ancaman yang menakutkan. Bagaimana setiap wilayah mampu meraih kesempatannya dengan baik dan member kebebasan bagi setiap warganya. Dalam kebebasan menikmati globalisasi, Friedman percaya bahwa tidak aka nada gejolak yang mengikuti, karena setiap orang memiliki hak yang sama untuk menikmati.

    Secara utuh dapat dilihat bagaimana Friedman menganggap globalisasi sebagai sebuah kehendak Allah dan Friedman adalah nabi nya. Tampak bagaimana Friedman mengajak setiap pembaca untuk meng-amini  bahwa globalisasi adalah sebuah keniscayaan. Globalisasi tidak terbendung. Dan pemimpinnya adalah Amerika Serikat. Meskipun pada tulisannya Friedman mengetengahkan bahwa setiap Negara memiliki kesempatan yang sama, namun dia masih percaya bahwa kepemimpinan tetap ada di tangan Amerika dan susah tergantikan.
    Tentunya dengan mengusung demokrasi, Friedman kembali menentang pola teokrasi otoriter kaum islam, dan dilekatkan dengan terorisme.  Menarik memang jika kita melihat analisanya. Tampak bagaimana Friedman mencoba menggabungkan kekuatan otoriter islam dengan pola kepemilikan minyak dan minimnya peran serta warga dalam Negara.
    Bukankah dalam sebuah dunia global, seharusnya islam otoriter dan terorisme menjadi sebuah bagian integral di mana keunikan jaman dan dialog seharusnya tetap diupayakan? Tentunya kita tidak ingin jatuh dalam otoritarianisme globalisasi.