Minggu, 27 Mei 2012


… PULANG …

Judul            : Supernova 4: PARTIKEL       
Pengarang    : Dee, Dewi Lestari
Penerbit       : Bentang Jakarta
Jenis            : Novel
Halaman      : 486 hal



“Problemku terbesar adalah mempercayai spesies Homo Sapiens..”


    Kisah bercerita tentang seorang tokoh bernama Zarah. Perempuan cerdas, berani dan memiliki ambisi yang kuat dalam hidupnya. Tak dikisahkan bagaimana kecantikannya. Tampaknya bagi Dee kecantikan wajah bukanlah hal yang menarik untuk dibicarakan. Zarah memiliki kepribadian yang kuat. Lahir  dari keluarga yang ‘mengandung polemik’: ayahnya adalah saudara angkat ibunya. Ayah Zarah, Firas,  adalah anak angkat dari keluarga ibunya,Aisyah. Dia diangkat Abah Hamid Jalaludin saat orang tuanya meninggal akibat kecelakaan. Cinta dan perkawinan menjadikan keluarga Abah Hamid menjadi beku dan menyisakan permasalahan yang terus berlanjut.
    Zarah turunan orang cerdas. Firas terlahir dengan kemampuan yang luar biasa hingga dia bisa menjadi dosen di IPB. Keunikan dan minat Firas tampaknya membuat dia dengan yakin mendidik Zarah seorang diri, tanpa institusi sekolah. Ketidakpercayaan pada institusi sekolah dan minat yang kuat pada hal ilmiah menjadikan didikan terhadap Zarah di atas rata-rata anak seusianya.
Fungi, kata dan benda itulah yang menjadi minat utama dari Firas.Dalam pencarian akan minatnya, ternyata dia menemukan bahwa fungi adalah sebuah enteogen (tanaman yang mampu menjadi jembatan antara dunia jasmani dan dunia spiritual )yang kuat . Dalam pertemuan dengan jamur inilah Firas menemukan bahwa inderanya dapat diperluas dan dia dapat bertemu dengan shaman (roh penghubung dunia jasmani dan dunia roh). Pengalaman ilmiah dan pribadi pada ‘pertemuan’ ini menjauhkan Firas dari keluarga, pekerjaan dan lingkungannya.
    Zarah, dibebani dengan pencariannya terhadap Firas, yang hilang hingga akhir cerita, melanjutkan pemikiran Firas. Dialah anggota keluarga yang sangat memahami pemikiran sang ayah. Sebagai seorang pribadi, Zarah adalah pribadi yang unik. Kuatnya dia memegang prinsip akhirnya menuntuk dia pada pencarian yang tidak bertepi tentang apa yang dia CINTA: persahabatan, alam, kebenaran dan … AYAH!

KEBENARAN DARI DALAM
    Gambaran temperamen Zarah menunjukkan bahwa dia sebenarnya adalah pribadi berkarakter dominan. Pemikirannya tegas, lugas, tidak berbelit. Keberanian memutuskan dan tidak tunduk pada situasi yang ada di sekelilingnya. Dan satu lagi, dia sangat REALIS! Sebagai seorang realis, ketakutannya hanyalah pada manipulasi. Dia tidak dengan mudah mempercayakan hidupnya pada apa yang ada di depannya. Dia mempercayai dirinya sendiri. Namun dalam hidup, ternyata dikisahkan bagaimana seseorang harus melepas kepercayaan itu pada CINTA.
    Cinta Zarah pada Firas membawanya pada  petualangan yang unik. Dengan menekuni bidang minat Firas dia menemukan pengalaman yang menarik mengenai ‘kebenaran’! Tampaknya inilah yang menjadi salah satu bagian yang hendak di-share-kan Dee. Kebenaran bukanlah dari luar! Kebenaran itu sudah ada di dalam. Alam adalah sesuatu yang menyatu. Sebagai sebuah system ternyata ada kode yang sama dalam setiap bagian alam. Dan itulah yang menggerakkan alam: PARTIKEL, itulah arti nama Zarah!
    Kebenaran sebenarnya sudah tergambar dalam kode diri setiap mahluk. Dalam komunikasi dengan seluruh bagian alam, maka ‘partikel’ itu akan menyatu dan kebenaran akan muncul. Oleh sebab itu, dimungkinkan komunikasi dengan apa saja, termasuk tumbuhan. Mereka paham, dan berbicara, hanya saja dalam bahasa mereka. Mereka bergerak, mereka hidup! Partikel lah yang menyatukan semua mahluk. Alam yang satu mengakibatkan kerusakan pada alam akan merusak segala sesuatu.
    Kesadaran akan Partikel ini dapat dipertajam dengan adanya enteogen. Enteogen memampukan manusia untuk memperluas daya tangkapnya terhadap sesuatu di luar dirinya. Inilah yang disebut dengan ‘tras’ atau ‘halusinasi’. Fenomena terakhir bukanlah sebuah penyimpangan, tetapi sebuah kelengkapan. Kelengkapan untuk menangkap fenomena yang lebih luas, yang ada, demi komunikasi kebenaran. Di sinilah Zarah bertemu dengan Abah yang sudah meninggal. Pertemuan hati yang saling mengasihi tanpa komunikasi di dunia jasmani. Juga di sinilah muncul bayangan tentang ET, Alien, malaikat … sesuatu yang sulit dijelaskan oleh ilmu kasat mata.
    Cinta juga yang akhirnya membuat Zarah menemukan Koso, Storm, Paul, Zach… dan Sarah, simpanse yang diasuhnya. Cinta mengajarkan Zarah pada kelemahan manusia. Kelemahan manusia yang tidak bisa sendiri. Manusia yang harus mempercayai sesuatu. Cinta, yang ada di dalam diri manusia, itulah yang menggerakkan manusia untuk mencari. Dialah energy utama untuk mencari kebenaran yang sejati. Semua itu berada tidak jauh  dari manusia, di dalam diri manusia!

PULANG
    Semua pencarian Zarah bermuara pada satu kata, PULANG. Pulang adalah sebuah kata yang sulit untuk orang yang sedang mencari, orang yang menyukai dinamika. Tapi ternyata itulah yang disampaikan sebagai konklusi. Pulang kepada diri, pulang ke Indonesia, pulang ke rumah.
    Mengutip istilah Nietzche, inilah moment ‘berlabuh’ yang dinanti. Kelelahan pencarian membuat manusia akan menemukan arti dalam keber-pulang-an. Tidak dikisahkan bagaimana akhir cerita. Apakah Zarah tetap akan ke London? Atau akankah dia tetap di Indonesia? Tapi satu hal yang dicatat: dia pulang.
Pencarian Zarah pada ayahnya membuat dia meninggalkan keluarganya, yang tidak menyukai kondisi Firas yang berbeda dari orang kebanyakan. Dimulai dari hadiah kamera Nikon FM2/T, yang entah dari mana (belakangan diketahui itu dari Simon Hardiman, korespondesi ayahnya), menjadikannya pemenang lomba (juga entah oleh siapa fotonya disertakan lomba). Hadiah ke Kalimantan membuatnya tinggal di Kalimantan, bertemu Sarah yang berujung pada keberangkatan ke London karena Paul dan Zach.
    Sebuah pengalaman hidup yang dinamis: mulai dari pencarian ayah, persahabatan dengan Koso, kekuatan cinta alam Sarah, pekerjaan dan Storm, hingga pertemuan dengan Simon Hardiman dan Hawkeyes. Dinamika yang digambarkan saat menggairahkan, bergejolak dan penuh makna. Seakan hidup memanglah hidup. Itulah gambaran sosok Zarah. Tapi semua itu bermuara pada satu kata: pulang.
    Kisah diakhiri dengan keinginan Zarah untuk pulang, ke rumah yang ternyata dirindukan. Pada ibunya yang sulit dimaafkan. Pada Hara, sang adik Penunggu (sedang Zarah digambarkan sebagai Pencari). Pada Umi, sosok religious pendamping Abah. Dan itulah saatnya: absurd, tanpa penjelasan mengapa harus pulang. Tapi ‘pulang’ adalah jawab yang tepat tanpa banyak alasan dikemukakan.
   
    Supernova memiliki tema yang satu: pencarian. Sebuah pencarian makna hidup. Dan kali ini pencarian ini ditemukan dengan PULANG PADA DIRI. Mungkin inilah gambara Dee yang dinamis, yang tidak mempermasalahkan fisik dan tampilan, tetapi mementingkan kekuatan temperamen. Sebuah sosok dimanis dan berani mencari dengan pengalaman sendiri. Dilihat dari reverensi, kisah ini bukan sekedar fiksi asal karena disertai data dan pengalaman religious pribadi Dee. Pengalaman yang bermuara pada pencarian dari dalam, pengalaman pulang.
    Waktu Nasya, anak didikku, bertanya “apakah betul Jamur adalah awal segala sesuatu, karena buku ini menulis demikian?” aku menjawab sekenanya. Sekarang aku tahu bahwa PARTIKEL adalah jawabannya. PARTIKEL adalah inti diri. Inti dunia. Inti ke-pulang-an.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar