ETIKA KRISTEN
Tujuan Belajar:
1. Memahami
keunikan Etika Kristen
2. Memupuk
sikap etis dalam diri
Pemikiran awal:
Jika etiket
berarti adalah ruang lingkup, yaitu
aturan-aturan yang membatasi tindakan seseorang dalam sebuah komunitas. Misalnya:
dalam sebuah komunitas desa, bersendawa (glegek’an)
dengan bunyi keras menjadi etiket kesopanan ketika anggota komunitas tersebut
selesai makan, karena itu menandakan kepuasan makan. Sedangkan untuk kelompok
lain, bersendawa dengan bunyi keras merupakan kekejian (hehehe…maksudnya: hal
yang tidak sopan J);
maka etika adalah ilmu tentang etiket (melihat hal-hal mendasar
dari etiket yang ada).
Jika orang diajari etiket, tentu harapannya adalah menjadi
baik. Masalahnya adalah apa yang mendasari kebaikannya.
Kalau ada orang memberi dan menerima dengan tangan kanan,
etika yang nampak adalah kesopanan. Nah, bagaimana dengan etika Kristen. Apa
yang mendasari kesopanan orang Kristen??
Kalau ada dua orang yang sopan, lalu kesopanan Kristen apa bedanya
dengan kesopanan yang lain??
Penjelasan:
Beberapa alas an ketika seorang Kristen melakukan
etiket/etika adalah :
1. Pemahaman
tentang keselamatan
a. Bagi
orang Kristen, keselamatan adalah anugerah!
Keselamatan adalah cuma-cuma karena kasih Allah dalam Yesus Kristus
memberikan diri menanggung hukuman dosa manusia. Oleh sebab itu, orang
diselamatkan karena iman (Roma 3:23-30)
b. Perbuatan
baik bagi orang Kristen adalah buah / ucapan syukur kita kepada Allah yang
sudah memberi keselamatan (Efesus 2:8-10)
c. Perbuatan
bukan ukuran/bukti keselamatan, karena banyak orang baik tetapi tidak mengenal
Yesus
d. Orang
Kristen harus berbuat baik, bahkan harus lebih baik, lebih sempurna,lebih
benar, lebih kudus dibandingkan orang lain karena Orang Kristen sudah mendapatkan keselamatan
2. Pemahaman
tentang kebebasan
a. Tidak
ada orang yang bebas 100%! Manusia selalu dipengaruhi oleh masa lalu, orang
lain, pengaruh luar, masyarakat dan lain sebagainya. Contoh: konsep tentang
cantik kita selalu dipengaruhi oleh konsep masyakat tentang cantik (hidung
mancung, kulit putih, rambut lembut, dan lain sebagainya …apa ada yang
berpendapat lain? Hehe). Oleh sebab itu kita perlu berpikir jangan-jangan yang
kita anggap sebagai kita sadar bebas memilih, sebenarnya kita sedang tidak
sadar memilih…
b. Manusia
dipengaruhi DOSA! Manusia adalah HAMBA dosa! Manusia lebih mudah menjadi jahat
dibandingkan menjadi baik. Mengapa demikian? Karena manusia tidak bebas.
Manusia dibelenggu dosa, menjadi hamba dosa!
c. Maka
keselamatan jelas adalah anugerah karena kita seringkali (jika direnungkan)
tidak paham mengapa kita bisa percaya Yesus. Mungkin kita sering mendengar khotbah
yang intinya sama, tapi entah karena apa kita bisa bertobat pada sebuah saat
(kita percaya Allah yang anugerahkan) Inilah bukti bahwa iman itu adalah
anugerah Allah semata, bukan karena kemampuan kita (termasuk untuk beriman)
d. Kapan
manusia menjadi bebas? Saat manusia SADAR! Setelah kita melakukan sesuatu
kemudian kita berpikir kenapa demikian, saat itulah kita sadar. Saat melakukan
dosa kadang keinginan itu muncul tanpa sadar, tetapi tentu ada saat (titik
tertentu) kita sadar, kita berpikir…itulah kesadaran kita. Saat kita melakukan
kebiasaan baik, kadang itu hanya kebiasaan, tapi kadang kita menjadi sadar dan
bertanya ‘kenapa kita melakukan hal itu’. Saat itulah saat kita sadar!
e. Sigmund
Freud menyatakan bahwa manusia dikendalikan oleh 3 hal:
i.
Id = nafsu. Manusia banyak
dikendalikan oleh nafsu. Contoh: jika anda melihat tas di mall, apa dulu yang
anda lihat: menariknya atau harganya atau kebutuhannya? Kebanyakan karena
‘ketertarikan’… itulah id!
ii.
Superego = sebuah koreksi dalam diri
yang muncul karena pembiasaan. Ini sering dikaitkan dengan suara hati. Dia
muncul mendadak, tiba-tiba. Ini karena pembiasaan sejak kecil. Misalnya bagi
anak yang tidak biasa mendengar suara tinggi dalam sebuah kemarahan (karena
cara orang tua marah adalah diam), akan merasa bersalah sekali ketika dia marah
dan mengeluarkan nada yang tinggi. Seorang yang dididik di lingkungan keluarga
yang memiliki cara marah yang kasar akan merasa kurang bersalah jika dia marah
dengan cara kasar dan ekspresif.
Superego (juga suara hati) sudah jatuh dalam dosa, meskipun masih bisa
dipakai Tuhan untuk mengingatkan kita. Suara hati kita sering menjadi tidak
peka. Suara hati bisa menuduh berlebihan. Oleh sebab itu, kedekatan dengan Tuhan
melalui Firman Nya mutlak dibutuhkan supaya kita semakin peka dan tepat
(termasuk suara hati kita)
iii.
Ego = kesadaran. Sigmund Freud
menyatakan bahwa ego adalah hal yang
paling jarang menguasai diri kita. Kita paling sering digerakkan oleh id dan superego. Nah, seharusnya semuanya dibawa pada ego (kesadaran). Bahasa Alkitab inilah akal dan budi. Jadi saat id
dan superego kita menyatakan sesuatu pada kita, kita butuh ego untuk dapat
melogika-kan, menyadarkan, mensistematiskan sehingga semuanya menjadi lebih tepat
dan benar.
Contoh: Saat kita
ingin membeli tas, kita berpikir apakah itu berguna … Saat kita merasa bersalah
karena melakukan hal yang tidak biasa, logika kita mengingatkan tingkat rasa
bersalah kita jangan berlebihan.
Meskipun ego
(kesadaran akal budi) adalah tingkat tertinggi, Paulus mengingatkan untuk terus
kesadaran kita diperbaharui oleh Allah sehingga mampu membedakan apa yang baik,
yang dikehendaki Allah dan yang sempurna(Roma 12:1-3)
3. Prinsip
pemilihan keputusan etis
Ingatlah bahwa dalam kebebasan kita kita
sering dihadapkan dengan banyak masalah yang tidak mudah dihadapi. Dan dalam
masalah kadang kita diperhadapkan pada pilihan yang sulit: antara memilih ini
yang salah dan memilih itu yang juga salah (keputusan etis). Kadangkala
keberdosaan/kesalahan tidak menjadi jelas. Misal: kasus euthanasia, menolong
orang dengan cara yang salah, berbohong dalam beberapa kasus untuk menolong,
dan lain sebagainya.. Beberapa prinsip memilih keputusan yang demikian adalah:
a. Menjauhi
2 ekstrim: legalitas (legalisme) dan situasional
i.
Legalisme = berpatokan pada aturan secara buta,
tanpa hati (kelebihan: jelas, kelemahan: hanya berdasar aturan)
ii.
Situasional = berpatokan pada situasi, tidak ada
aturan jelas (kelebihan: fleksibel, kelemahan: tidak jelas)
b. Memilih
yang paling sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan dan dapat
dipertanggungjawabkan
c. Kaidah
kencana: berpikir seandainya saya menjadi seperti dia J
4. Kepekaan
suara hati
Suara hati manusia jatuh dalam dosa. Harus
dididik dan dilatih dalam terang Firman Tuhan.
KEKRISTENAN DAN BUDAYA
Tujuan belajar:
1. Memahami
berbagai pendekatan kekristenan terhadap budaya
2. Memikirkan
dan memilih pendekatan yang paling tepat
Pemikiran Awal:
Manusia adalah
mahluk yang berbudaya. Manusia menciptakan budaya, sekaligus berinteraksi,
memilih dan dipengaruhi oleh budaya. Manusia sering harus menentukan sikap
terhadap budaya. Contoh: penggunaan HP dan ipad, jika itu digunakan oleh orang
Kristen dalam ibadah, apakah tepat? Orang Kristen tidak membawa Alkitab tetapi
membawa HP saja/Ipad saja waktu ibadah, tepatkah? Kalau pengkhotbahnya yang
tidak membawa Alkitab?
Contoh lain:
jika ada seorang anak pendeta mahir bermain game online, tepatkah itu? Atau
kalau pendeta Anda ternyata adalah pemain bilyard yang handal, bagaimana pandangan
Anda? Atau ternyata Pembina (laki-laki) gereja Anda memakai tattoo dan anting,
bagaimana pendapat Anda? Atau pendeta Anda jago gangnam style, bagaimana
pendapat anda?
Pendekatan
terhadap budaya (HP/Ipad, game online, bilyard, tattoo) mungkin berbeda-beda.
Nah, kita akan membahas perbedaannya dan keunikan pendekatan yang ada
Materi:
Ada 5 pendekatan
Kekristenan terhadap budaya:
1. Antagonistis
Sikap menolak budaya sama sekali. Budaya dianggap
tidak sesuai dengan Alkitab, oleh sebab itu ditolak
2. Akomodasi
Sikap merangkul budaya (beserta semua hal di
dalamnya). Misalnya: memakai budaya wayang sekaligus penyembahan berhala yang
ada di dalamnya. Bagi penganut akomodasi, mereka berpikir bahwa budaya dan hal
yang ada di dalamnya tidak bertentangan dengan iman Kristen.
3. Dualisme
Sikap ini merangkul budaya (beserta semua yang ada di
dalamnya), tetapi menyadari bahwa budaya tersebut bertentangan dengan iman
Kristen. Hanya saja karena satu dua hal, penganut dualisme tetap memakai
pendekatan ini. Mungkin karena kebutuhan atau tuntutan. Contoh: pedagang
Kristen yang memiliki jimat. Dia tahu jimat tidak boleh, tetapi tetap
memakainya
4. Dominasi
Sikap ini menerima budaya tetapi dipakai untuk
kekritenan. Contoh: memakai tattoo tetapi tattoo gambar salib. Memakai music
dangdut tetapi lagu Kristen.
5. Transformasi
Sikap ini menerima budaya tetapi memperbaharuinya. Hal
yang tidak bertentangan dengan nilai Kristiani diterima, sedangkan yang
bertentangan dengan iman Kristiani diperbaharui, diisi dengan hal-hal yang
Kristen. Misalnya: kisah barongsai yang disisipi kisah Alkitab. Mungkin Allah
menciptakan naga, dan lain sebagainya…. Jadi budaya itu diperbaharui.
Prinsip yang
harus kita ketahui sebagai orang Kristen:
1. Manusia
menciptakan budaya
2. Manusia
jatuh dalam dosa, sehingga budaya jatuh dalam dosa
3. Budaya
bisa dipakai iblis untuk menjadi budaya dosa
4. Budaya harus ditebus dalam Kristus
4. Budaya harus ditebus dalam Kristus
5. Allah
ingin budaya itu dipakai untuk kemuliaan Allah