Senin, 27 Februari 2012

THE WORLD IS FLAT

Penulis                    : Thomas L. Friedman
Penerbit                  : Dian Rakyat Jakarta
Cetakan Pertama    : 2006

“Columbus berangkat dengan asumsi dunia ini bulat…. Columbus melaporkan kepada raja bahwa dunia ini bulat, karenanya ia dicatat sebagai orang pertama yang menemukan hal ini. Sementara itu, ketika pulang, saya hanya menyampaikan penemuan itu pada istri sendiri sembari berbisik: ‘Sayang, saya kira dunia ini datar’…. ”
     

    Sebuah judul yang menggugah yang menyatakan betapa dunia kembali mengalami revolusi setelah revolusi jaman Columbus, di mana ditemukan dunia bulat. Jaman Columbus, perjalanan antar pulau antar benua jarang dilakukan karena adanya pemahaman bahwa dunia ini datar. Dipercaya ada wilayah yang disebut jurang bumi, tempat di mana banyak pelaut tidak akan kembali lagi jika terperosok di dalamnya. Sebab itu, temuan Columbus membuka kesempatan dunia untuk mencari pengalaman ke wilayah lain dan membuka revolusi dunia.
    Hanya saja, secara provokatif, Thomas L. Friedman menyuguhkan bahwa dunia saat ini ternyata memasuki era ‘datar’. Dimaksud sebagai dunia yang datar karena dunia memasuki babak baru di mana tidak terdapat kesulitan berelasi antar wilayah, tidak ada perbedaan kesempatan untuk berkembang bagi berbagai wilayah dunia dan munculnya kesempatan bagi setiap orang untuk berkembang dan berpendapat. Dunia datar ditandai dengan munculnya kerjasama/rantai jaringan seluruh dunia, meluasnya pengaruh dan keunikan-keunikan tertentu di berbagai wilayah dunia, seperti: munculnya burger dan kentang goreng di berbagai wilayah dunia.
    Friedman menyebutkan adanya 10 kekuatan yang mendatarkan dunia:
1.    Runtuhnya tembok Berlin 9 Nopember 1989
2.    Zaman konektivitas: Web & Netscape
3.    Perangkat lunak alur kerja
4.    Uploading
5.    Outsourcing (pengambilan sebagian dan mengkolaborasikan)
6.    Offshoring (pemindahan utuh)
7.    Multiply Chaining (rantai kerja yang efektif, efisien, terpercaya)
8.    Insourcing (kolaborasi badan usaha yang menjadikan lebih kompleks tapi lebih efektif)
9.    Informing
10.    Steroid (digital, bergerak, personal, virtual)
    Jika saya mencoba gambarkan secara garis besar (baca:kasar), 10 kekuatan pendatar dunia (Friedman, lagi-lagi secara provokatif menyebut angka 10 bagai 10 perintah Allah, sebuah rambu yang HARUS terjadi) sebagai munculnya semangat jaman di mana setiap orang merasa membutuhkan aktualisasi dan pengakuan sebagai diri yang sejajar dengan orang lain. Pada titik ini maka runtuhnya tembok Berlin menjadi pertanda di mana kekuatan Negara (baca: sosialis) tidak lagi laku dalam semangat jaman.
    Apalagi jika didukung oleh keunikan internet, web dengan http nya. Semangat individu ditambah dengan kemampuan terhnologi membuat setiap orang masuk dalam dunia uploading, di mana setiap pribadi diakui eksistensinya secara sama mampu menuliskan apa yang dia inginkan.
Memang menjadi pertanyaan setelah setiap pribadi memiliki kemampuan untuk mandiri, di manakan peran Negara. Negara berada dalam dilemma ketika harus melindungi penduduknya dari serbuan modal asing melalui (outsourcing, offshoring, multiply channing, insourcing). Dalam dunia yang serba cepat, di mana informasi dapat diakses dimana-mana dengan kecepatan seperti steroid, maka seluruh elemen (Negara maupun warga) harus siap menghadapinya.
    Globalisasi menurut Friedman dibagi dalam 3 era:
1.    Globalisasi 1.0, globalisasi dengan tatap muka di mana setiap orang dalam satu waktu harus mengatur waktu untuk bertemu dan bertatap muka satu dengan yang lain. Transportasi tentunya memenuhi syarat untuk ini
2.    Globalisasi 2.0, globalisasi ini mulai menggunakan tehnologi sebagai salah satu alat pengganti tatap muka. Mesin ATM dan loket tiket sudah diganti secara mesin. Pengecek kehadiran tidak lagi manual, tetapi berbasis mesin
3.    Globalisasi 3.0, globalisasi dimana setiap pribadi mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Setiap pribadi dengan akses yang dimiliki mampu melakukan transaksi tanpa harus bepergian ke mesin atm atau loket pembelian.
    Kembali kepada masalah siapa diuntungkan dalam globalisasi, tampaknya Friedman berpendapat bahwa terdapat seleksi Darwinisme yang ketat untuk menentukan siapa akan mengeksploitasi siapa? Bagi Friedman, tampaknya Globalisasi 3.0 tidak dapat dihindarkan. Pertanyaannya adalah apakah semua siap? India menunjukkan taji nya dengan kemampuan berbicara dalam aras tehnologi hingga dapat bersaing dengan pemerintah AS dalam meng up grade departemen tenaga kerja, dengan biaya yang relative murah tapi berkualitas, di Negara bagian Indiana! Padahal Indiana sedang berusaha menutup diri dari outsourching. Siapa mengeksploitasi siapa?
    Tampaknya bagi Friedman masalah utama terletak pada kesempatan, dan bukan pada kesetimbangan harga. Friedman menilai bahwa setiap wilayah memiliki ukuran yang berbeda-beda (termasukd dalam system gaji), sehingga bukanlah sebuah masalah jika orang India mendapat harga yang lebih murah dari orang Amerika meskipun harga itu lebih tinggi dari penghasilan orang India rata-rata.  Bagi Friedman ini adalah kesempatan bersaing yang bisa berarti saling menjatuhkan.
    Oleh sebab itu, Friedman melanjutkan dengan tesis selanjutnya bahwa inti masalah terletak pada bagaimana seorang atau sebuah Negara mampu menjual ide yang brilian dan maju. Apa yang dimiliki seorang pribadi menjadi nilai jual yang unik dalam percaturan global. Oleh sebab itu, Globalisasi menjadi sebuah hal yang menantang. Menantang munculnya kelas menengah baru. Sebuah kelas dengan kemampuan intelektual, bukan financial! Sebuah kelas yang mampu menawarkan sebuah terobosan dan keunikan baru di tengah tata dunia yang baru. Dan di sini, tentunya sekali lagi, dengan sangat percaya diri, Friedman menegaskan bahwa Amerika adalah pemimpin dunia baru ini.
    Pada bagian selanjutnya, Nampak bagaimana tesis Friedman melaju kepada hal-hal mendasar berkaitan dengan penghambat globalisasi 3.0. yaitu meliputi: infrastruktur, program pendidikan dan regulasi perpajakan sebuah Negara. Friedman selanjutnya mencoba mengkritisi kesiapan Amerika sendiri dalam menghadapi Globalisasi 3.0:
1.    Terjadi penurunan angka-angka tingkat minat pendidikan kesarjanaan dan pascasarjana sains di America
2.    Kalah bersaingnya pendidikan penduduk asli terhadap immigrant
3.    Kurangnya semangat penduduk Amerika untuk berambisi, terlalu terbuai dengan TV, video game dan game online
4.    Kurangnya pendidikan di aras bawah. Pendidikan kurang memancing ke arah pemandirian
5.    Pendanaan ke arah sains yang minim
6.    Lambatnya akses infrastruktur, missal: lambatnya internet dan kurangnya penggunaannya secara efektif dan efisien
    Bagi Friedman sesungguhnya yang banyak berperan di sini adalah para pemimpin. Pemimpin seharusnya memiliki program-program yang tidak meninabobokan warga, tetapi memampukan warga untuk lebih kreatif dan inovatif. Bukan berarti bahwa setiap tunjangan harus dihilangkan, tetapi ada beberapa tunjangan yang buruk dan tidak mendidik jika dipertahankan (Friedman menyatakan sebagai lemak buruk). Tunjangan yang baik untuk dipertahankan dalam globalisasi 3.0 misalnya disebutkan: tunjangan (asuransi) gaji, tentunya dengan syarat-syarat yang tidak mudah dan tidak membuat orang menjadi malas untuk mencari kerja (salah satunya: asuransi dibayarkan jika orang tersebut sudah mendapatkan pekerjaan yang baru). Selain itu, Friedman juga mengetengahkan adanya pola asuh dan aktivitas social dari perusahaan-perusahaan besar. Hal ini akan menyeimbangkan keuntungan yang diraup, sehingga tidak timpang.
    Sementara itu bagi Negara berkembang, globalisasi 3.0 memberi tantangan. Salah satunya adalah glokalisasi, dimana hal-hal local dari sebuah Negara menjadi global dan memiliki keuntungan tersendiri. Selain itu, dalam laju globalisasi 3.0 setiap Negara memiliki kemampuan dan kesempatan yan sama. Kesempatan untuk menjadi besar dan berkembang lebih lagi.  Oleh sebab itu beberapa nasihat diberikan oleh Friedman:
1.    Gali potensi Anda
2.    Ambil kesempatan dalam kemajuan tehnologi dan kolaborasi untuk meraih hal sebesar-besarnya
3.    Bertindak kecil dan biarkan konsumen bertindak
4.    Kolaborasikan diri sebanyak-banyaknya
5.    ‘Rontgen’ diri secara regular dan jual hasilnya pada klien
6.    Outsourcing dengan tujuan pengembangan bukan penyusutan
7.    Outsourcing tidak hanya untuk pekerja tapi juga untuk kaum idealis
    Meskipun dunia datar menjanjikan banyak hal, ternyata beberapa masalah bisa muncul dalam dunia datar 3.0. Maraknya pornografi, menyebarnya penyakit, masalah terorisme, kemajuan yang tidak dibarengi dengan pemikiran yang seimbang mengenai alam ternyata menjadi masalah pokok yang dihadapi globalisasi 3.0. Menghadapi ini Friedman menyampaikan bahwa Negara-negara seharusnya menjadi actor-aktor local yang mencegah kehancuran dunia dalam perubahan budaya yang terjadi dan tidak terbendung dalam globalisasi 3.0. Selain itu, Negara memiliki kemampuan untuk menjadikan setiap warga semakin bermartabat dan menikmati globalisasi 3.0. Jika kemajuan dinikmati setiap warga, maka gejolak menghadapi globalisasi 3.0 dapat dihindarkan. Untuk itu setiap warga perlu disiapkan!
    Hal lain yang perlu dibangun adalah imaginasi. Bagaimana mengisi imaginasi globalisasi 3.0 sebagai sebuah tantangan yang positif dibandingkan sebagai sebuah ancaman yang menakutkan. Bagaimana setiap wilayah mampu meraih kesempatannya dengan baik dan member kebebasan bagi setiap warganya. Dalam kebebasan menikmati globalisasi, Friedman percaya bahwa tidak aka nada gejolak yang mengikuti, karena setiap orang memiliki hak yang sama untuk menikmati.

    Secara utuh dapat dilihat bagaimana Friedman menganggap globalisasi sebagai sebuah kehendak Allah dan Friedman adalah nabi nya. Tampak bagaimana Friedman mengajak setiap pembaca untuk meng-amini  bahwa globalisasi adalah sebuah keniscayaan. Globalisasi tidak terbendung. Dan pemimpinnya adalah Amerika Serikat. Meskipun pada tulisannya Friedman mengetengahkan bahwa setiap Negara memiliki kesempatan yang sama, namun dia masih percaya bahwa kepemimpinan tetap ada di tangan Amerika dan susah tergantikan.
    Tentunya dengan mengusung demokrasi, Friedman kembali menentang pola teokrasi otoriter kaum islam, dan dilekatkan dengan terorisme.  Menarik memang jika kita melihat analisanya. Tampak bagaimana Friedman mencoba menggabungkan kekuatan otoriter islam dengan pola kepemilikan minyak dan minimnya peran serta warga dalam Negara.
    Bukankah dalam sebuah dunia global, seharusnya islam otoriter dan terorisme menjadi sebuah bagian integral di mana keunikan jaman dan dialog seharusnya tetap diupayakan? Tentunya kita tidak ingin jatuh dalam otoritarianisme globalisasi.

1 komentar: