Kamis, 07 Februari 2013

Hand Out kelas X


HAND OUT KELAS X

Ciri pribadi yang dewasa (baca buku paket)

Takut akan Tuhan
1. Ide Allah masa Perjanjian Lama adalah Allah yang kudus, terpisah dari dunia (jika Allah berhadapan dengan manusia maka manusia itu akan mati)
2. Konsep saat ini: Hormat pada Allah
3. Takut akan Allah menjadi dasar sikap hidup.
Ada banyak dasar yang memungkin orang melakukan sebuah tindakan.
Lawrence Kohlberg membagi tiga tahapan dalam manusia mendasari sebuah tindakan:
a. Pra Konvensional : alasan dasarnya adalah diri sendiri (takut hukuman & ingin hadiah)
b. Konvensional : alasan dasarnya adalah masyarakat
c. Post Konvensional : alasan dasarnya adalah hal abstrak (Allah)


Membangun Jatidiri

Jendela Johari
1. Daerah Terbuka : saya tahu orang lain tahu
2. Daerah Tersembunyi: saya tahu, orang lain tidak tahu
3. Daerah Terlena: saya tidak tahu, orang lain tahu
4. Daerah Tertutup/Tidak dikenal: saya tidak tahu, orang lain tidak tahu

Jatidiri manusia:
1. Teori Dikotomi = teori yang menyatakan bahwa manusia terdiri atas tubuh (bagian yang kelihatan) dan roh (bagian yang tidak kelihatan).
2. Teori Trikotomi = teori yang menyatakan bahwa manusia terdiri atas tubuh (tampakan fisik, termasuk DNA dsb), jiwa (aktivitas akibat tindakan fisik spt: emosi, berpikir, hasrat, keinginan), roh (keinginan menaati perintah Allah atau menentang perintah Allah)
Manusia menurut Alkitab:
1. Alkitab membedakan dengan tegas antara Allah dan manusia. Manusia diciptakan secara khusus dan dihembusi nafas Allah (satu-satunya mahluk yang memiliki roh)
2. Allah menempatkan manusia di tengah bumi untuk menguasai dan memelihara bumi (Kej 1:28, 2:15)
3. Manusia memiliki kebutuhan yang mendasar untuk bersekutu dengan Allah
4. Sebagai ciptaan, manusia adalah mahluk yang tidak sempurna, membutuhkan Allah dan ciptaan lain (kata ‘sungguh amat baik’ dalam kejadian 1:31 menunjuk kepada keseluruhan ciptaan termasuk manusia)
5. Manusia jatuh ke dalam dosa dan membutuhkan kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus (Roma 3:23, 6:23)
Menghadapi Tantangan
Paul Stoltz dalam buku berjudul Adversity Quotient membahas mengenai kecerdasan manusia dalam menghadapi kesulitan:
1. Quitter = orang yang menyerah dan lari ketika menghadapi tantangan. Memang tidak setiap tantangan/kesulitan harus dihadapi. Manusia harus belajar menilai diri dengan tepat dan menghindari kesulitan dan masalah yang tak mungkin ditanggungkan. Contoh: Yusuf lari ketika istri potifar menggodanya. Manusia harus berani menilai dirinya dan melihat dengan jujur,sehingga tidak terjerumus dalam kesulitan yang lebih besar
2. Camper = orang yang berkemah, berjuang setengah-setengah, merasa cukup dan berhenti berjuang. Memang tidak setiap masalah dapat diselesaikan oleh usaha kita. Masalahnya adalah kita mau menyerahkan masalah yang tidak terselesaikan itu ke tangan yang tepat (khususnya tangan Tuhan)
3. Climber = orang yang tidak pernah menyerah dalam berjuang menghadapi kesulitan. Orang yang bekerja keras secara serius dalam menyelesaikan kesulitannya. Secara umum, sikap ini perlu dimiliki oleh setiap orang dalam menghadapi tantangan.



Keluarga Kristen
Keluarga adalah institusi sosial yang Allah bentuk untuk kebaikan manusia. Keluarga adalah ibarat bahtera yang seharusnya membuat semua anggota selamat, karena itu setiap orang membutuhkan keluarga.
Fungsi keluarga adalah:
1. Lebih menyempurnakan kehidupan pribadi dan sosial dimana setiap pribadi dilengkapkan oleh keberadaan orang lain dengan tujuan memuliakan nama Tuhan
2. Menjadi penolong yang sepadan bagi pasangan (anggota keluarga yang lain) demi mencapai sasaran bersama yaitu menjadi pribadi yang semakin disempurnakan
3. Penyebarluasan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan masyarakat
4. Menyalurkan dorongan biologis secara sehat dan tepat dalam terang hormat dan kekudusan
5. Menjadi tempat latihan praktik kasih

Prinsip pernikahan Kristen: Kejadian 2:24
1. Meninggalkan = Azab = meninggalkan yang di belakang, menjadi bebas dan mandiri. Ini menunjukkan sikap yang diperlihatkan oleh seorang pribadi jika dia menikah terhadap orang tua mereka. Seorang pribadi yang akan menikah harus siap menjadi mandiri dan tidak bergantung kepada orang tua lagi
2. Bersatu = Davaq = melekat, menempel, seperti perangko yang menempel pada amplop akan rusak jika dilepaskan. Oleh sebab itu, dalam pernikahan Kristen konsep monogami menjadi prinsip yang tidak dapat dielakkan, dan kata ‘cerai’ menjadi tabu untuk dilakukan.
3. Menjadi satu daging = Basyar = sebuah persekutuan baru yang saling mengisi dan melengkapi

TANGGUNG JAWAB ORANG TUA
1. Mencukupi kebutuhan anak: jasmani maupun rohani (I Tim 5:8, Kol 3:21)
2. Mendidik (Amsal 22:6, Mzm 71:17)
3. Mengasihi (Kolose 3:21)


TANGGUNG JAWAB ANAK
1. Taat dan Hormat (Efesus 6:1-3, Kolose 3:20)
a. Orang tua adalah wakil Allah dalam mendidik, mengasuh dan memelihara anak
b. Orang tua juga memiliki keterbatasan dan kelemahan. Anak harus sabar menerima
c. Adanya ‘generation gap’ yang harus disadari oleh orang tua maupun anak
2. Mengsihi
a. Menjaga nama baik orang tua
b. Kesediaan menerima nasihat orang tua

TANTANGAN KELUARGA KRISTEN
1. Individualism dalam keluarga
Anak dan orang tua memiliki kehidupan sendiri. Terlebih lagi dengan adanya kemudahan tehnologi, setiap orang terpacu menjadi semakin individualis.
2. Feminisme
Desakan pengakuan kesamaan hak wanita dan pria membuat terjadinya perubahan secara sosial. Beberapa wanita mengekspresikan diri seperti pria, bahkan memutuskan dalam banyak hal menyerupai pria dalam kerja dan tindakannya.  Mereka mempertanyakan harkat, derajat dan martabat di hadapan pria dan mengupayakan kesetaraan dalam pengertian yang luas.
3. Tuntutan kebutuhan
Tuntutan kebutuhan menyebabkan orang tua mengatur dirinya dan memaksa dirinya untuk bekerja. Banyak orang bekerja sampai lupa waktu, sehingga mereka lupa memprioritaskan diri untuk keluarga. Seharusnya orang paham bahwa manusia yang berkeluarga bekerja untuk kepentingan keluarga


PERSAHABATAN & PACARAN
Manusia diciptakan sebagai mahluk sosial (Kejadian 2:18), manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain (meski sudah ada binatang, tetapi manusia membutuhkan sesamanya – Kej 2:20-23).  Pertemanan dapat meningkat menjadi persahabatan jika aspek emosi  lebih banyak terlibat di dalamnya.
Hal yang perlu diperhatikan dalam persahabatan adalah:
a. Binalah persahabatan sejati (Amsal 17:17)
b. Menjauhkan diri dari persahabatan negative (I Korintus 15:33)
c. Waspadai budaya ‘permissive society’ (budaya mengijinkan tindakan yang menyimpang meskipun sedikit)
d. Ingat bahwa hidup memiliki tujuan melakukan kebaikan dan memuliakan Allah (Efesus 2:8-10)
Pacaran adalah sebuah fase mengenal lebih dalam antara dua orang beda jenis dengan tujuan persiapan ke arah pernikahan
Pacaran sehat :
1. Sehat secara fisik
Secara fisik, manusia memerlukan perhatian dalam bentuk sentuhan fisik. Namun sentuhan fisik juga harus memperhatikan adanya bagian diri manusia yang sensitive untuk disentuh. Itulah sebabnya sentuhan fisik seharusnya dibatasi di masa pacaran
2. Sehat secara emosi/jiwa
Secara emosi/jiwa, manusia akan berkembang dalam relasinya dengan orang lain. Manusia belajar memperhatian dan belajar memenuhi kebutuhan orang lain.
3. Sehat secara sosial
Secara sosial, pacaran harus memperhatikan norma sosial di mana dia berada. Oleh sebab itu, pacaran yang sehat seharusnya membuat pasangan tersebut semakin memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan orang banyak.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar